Selasa, 30 Juli 2013

7 Keistimewaan Lailatul Qadr

0 komentar


Setiap muslim pasti menginginkan malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar. Malam ini hanya dijumpai setahun sekali. Orang yang beribadah sepanjang tahun tentu lebih mudah mendapatkan kemuliaan malam tersebut karena ibadahnya rutin dibanding dengan orang yang beribadah jarang-jarang.
Edisi kali ini kita akan melihat keistimewaan Lailatul Qadar yang begitu utama dari malam lainnya.
1- Lailatul Qadar adalah waktu diturunkannya Al Qur’an
Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 403). Ini sudah menunjukkan keistimewaan Lailatul Qadar.
2- Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan
Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3). An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. (Zaadul Masiir, 9: 191). Ini sungguh keutamaan Lailatul Qadar yang luar biasa.
3- Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhon: 3). Malam penuh berkah ini adalah malam ‘lailatul qadar’ dan ini sudah menunjukkan keistimewaan malam tersebut, apalagi dirinci dengan point-point selanjutnya.
4- Malaikat dan juga Ar Ruuh -yaitu malaikat Jibril- turun pada Lailatul Qadar.
Keistimewaan Lailatul Qadar ditandai pula dengan turunnya malaikat. Allah Ta’ala berfirman,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4)
Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya barokah (berkah) pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat. Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir -yaitu majelis ilmu-. Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407)
Malaikat Jibril disebut “Ar Ruuh” dan dispesialkan dalam ayat karena menunjukkan kemuliaan (keutamaan) malaikat tersebut.
5- Lailatul Qadar disifati dengan ‘salaam’
Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat,
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr: 5) yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407). Juga dapat berarti bahwa malam tersebut, banyak yang selamat dari hukuman dan siksa karena mereka melakukan ketaatan pada Allah (pada malam tersebut). Sungguh hal ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari Lailatul Qadar.
6- Lailatul Qadar adalah malam dicatatnya takdir tahunan
Allah Ta’ala berfirman,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan: 4). Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (12: 334-335) menerangkan bahwa pada Lailatul Qadar akan dirinci di Lauhul Mahfuzh mengenai penulisan takdir dalam setahun, juga akan dicatat ajal dan rizki. Dan juga akan dicatat segala sesuatu hingga akhir dalam setahun. Demikian diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak dan ulama salaf lainnya.
Namun perlu dicatat -sebagaimana keterangan dari Imam Nawawi rahimahullah­ dalam Syarh Muslim (8: 57)- bahwa catatan takdir tahunan tersebut tentu saja didahului oleh ilmu dan penulisan Allah. Takdir ini nantinya akan ditampakkan pada malikat dan ia akan mengetahui yang akan terjadi, lalu ia akan melakukan tugas yang diperintahkan untuknya.
7- Dosa setiap orang yang menghidupkan malam ‘Lailatul Qadar’ akan diampuni oleh Allah
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa yang dimaksud ‘iimaanan’ (karena iman) adalah membenarkan janji Allah yaitu pahala yang diberikan (bagi orang yang menghidupkan malam tersebut). Sedangkan ‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala (dari sisi Allah), bukan karena mengharap lainnya yaitu contohnya berbuat riya’. (Lihat Fathul Bari, 4: 251)[1]
Ya Allah, mudahkanlah kami meraih keistimewaan Lailatul Qadar dengan bisa mengisi hari-hari terakhir kami di bulan Ramadhan dengan amalan sholih.
Aamin Yaa Mujibas Saa-ilin.
Read more...

Senin, 29 Juli 2013

Hikmah Nuzulul Qur'an

0 komentar


Hikmah Nuzulul Qur'an - Dalam pembahasan Nuzulul Qur'an menurut Berbagai Madzab kita telah mengetahui bahwa Al-Qur'an diturunkan ke Baitul Izzahsecara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al-Qur'an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. 

Nuzulul Qur'an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada tanggal pertama kali Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah SAW di gua Hira. Jika sebagian besar umat Islam di Indonesia meyakini 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzulul Qur'an, Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury menyimpulkan Nuzulul Qur'an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan. 

Lepas dari berapa tanggal sebenarnya, Nuzulul Qur'an dalam arti turunnya Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW secara bertahap atau berangsur-angsur itu memiliki beberapa hikmah sebagai berikut: 

1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat 
Dakwah Rasulullah pada era makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu menguatkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu. 

Ketika kekejaman Quraisy semakin menjadi, Al-Qur'an menyuruh mereka bersabar seraya menceritakan kisah para nabi sebelumnya yang pada akhirnya memperoleh kemenangan dakwah. Maka, seperti yang dijelaskan Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Rakhiqul Makhtum, Al-Qur'an menjadi faktor peneguh mengapa kaum muslimin sangat kuat menghadapi cobaan dan tribulasi dakwah dalam periode Makkiyah. 

Di era madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al-Qur'an turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama. 

2. Tantangan dan Mukjizat 
Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin. Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong Allah dengan jawaban langsung dari-Nya melalui wahyu yang turun. 

Selain itu, Al-Qur'an juga menantang langsung orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur'an. Nyanta, walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, tidak seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al-Qur'an yang tak tertandingi oleh siapapun. 

3. Memudahkan Hafalan dan Pemahamannya 
Dengan turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih mudah menghafalkan dan memahaminya. Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman para sahabat. 

4. Relevan dengan Pentahapan Hukum dan Aplikasinya 
Sayyid Quthb menyebut para sahabat dengan "Jailul Qur'anil farid" (generasi qur'ani yang unik). Diantara hal yang membedakan mereka dari generasi lainnya adalah sikap mereka terhadap Al-Qur'an. Begitu ayat turun dan memerintahkan sesuatu, mereka langsung mengerjakannya. Interaksi mereka dengan Al-Qur'an bagaikan para prajurit yang mendengar intruksi komandannya; langsung dikerjakan segera. 

Diantara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al-Qur'an adalah karena Al-Qur'an turun secara bertahap. Perubahan terhadap kebiasaan atau budaya yang mengakar di masyarakat Arab pun dilakukan melalui pentahapan hukum yang memungkinkan dilakukan karena turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur ini. Misalnya khamr. Ia tidak langsung diharamkan secara mutlak, tetapi melalui pentahapan. Pertama, Al-Qur'an menyebut mudharatnya lebih besar dari manfaatnya (QS. 2 : 219). Kedua, Al-Qur'an melarang orang yang mabuk karena khamr dari shalat (QS. 4 : 43). Dan yang ketiga baru diharamkan secara tegas (QS. 5 : 90-91). 

5. Menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji 
Ketika Al-Qur'an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. 

Demikianlah, sebagian hikmah Nuzulul Qur'an, diturunkannya Al-Qur'an secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. Wallahu a'lam bish shawab. [Muchlisin. Maraji: : مابحث في علوم القران karya Syaikh Manna Al-Qaththan, رحيق المختوم karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, dan معالم في الطريق karya Sayyid Quthb]
Read more...

Ramadhan dan Nuzulul Qur'an

0 komentar



Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia bila dibandingkan dengan bulan yang lain. Karena di dalam bulan Ramadhan ada Lailatul Qadar, segala dosa umat manusia diampuni dan segala amal perbuatan kebaikandilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt. dan di dalam bulan Ramadlan al-Qur’an pertama kali di turunkan.Peristiwa tersebut tidak pernah ada pada selain bulan Ramadhan. Selain kitab al-Qur’an Allah juga menurunkan kitab-kitab samawi yang lain seperti kitab Taurot, Zabur dan Injil. Hanya saja hukum syariat Islam yang tertuang di dalam masing-masing kitab tersebut satu sama lain tidak sama tetapi dalam masalah ketauhidan (ketuhanan) semua kitab sama yakni sama-sama mengajarkan kepada umat manusia agar menyembah dan meng-Esa-kan Allah SWT.
Al-Qur’an adalah mukjizat nabi Muhammad Saw yang paling agung bila dibandingkan dengan Mukjizat-mukjizat yang lain yang dimiliki oleh beliau Nabi dan atau bila dibanding dengan mukjizat-mukjizat lain yang dimiliki oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Adalah wajar jika sampai saat ini bahkan sampai hari kiamat nanti keaslian al-Qur’an masih tetap terjaga. Karena mustahil tidak ada satu orangpun di dunia ini yang dapat memalsukan/merubah ayat-ayat al-Qur’an apalagi mampu menyaingi keindahan kalam-kalam al-Qur’an. Seorang orientalis Barat yang bernama H.A.R Gibb pernah mengatakan bahwa “ Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini yang telah memainkan alat bernada nyaring yang sedemikian nyaring dan indah serta sedemikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang di baca Muhammad (al-Qur’an)”. Itulah barangkali salah satu bukti keagungan al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw. 14 abad yang silam. al-Qur’an memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh mukjizat yang lain yang hanya bisa dinikmati dan disaksikan pada zamannya saja. Sejak pertama kali diturunkan al-Qur’an telah mampu merubah arah dan paradigma peradaban ummat manusia dari kesesatan menuju kebenaran dan kebahagian dunia maupun akhirat. Hal ini merupakan salah satu pengaruh ajaran dan ilmu pengetahuan yang terkandung dalam al-Qur’an.
Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar tanggal, 17 Ramadhan tepatnya saat beliau Nabi Muhammad Saw berusia 40 tahun. al-Qur’an diturunkan ke bumi tidak sama dengan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan hanya satu kali langsung selesai. Tetapi al-Qur’an diturunkan dengan cara berangsur-angsur atau sedikit demi sedikit (bertahap) sesuai dengan kebutuhan atau sesuai dengan permasalah yang terjadi saat itu untuk memberikan jawaban atas permasalah yang dihadapi para Sahabat nabi kala itu.
Al-Qur’an diturunkan (Nuzulul Qur’an) membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Apa hikmahnya? Adalah untuk menguatkan rasa cinta hati nabi Muhammad dan para sahabat nabi agar selalu merasa senang setiap kali turunnya ayat al-Qur’an. Disamping itu, al-Qur’an diturunkan dengan cara berangsur-angsur agar supaya para sahabat lebih mudah menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an yang telah diturunkan lebih dahulu.
al-Qur’an diturunkan ada kalanya yang mempunyai sebab (Asbab an-Nuzul) seperti ayat al-Qur’an yang diturunkan untuk menjawab sebuah pertanyaan dari permasalah yang dihadapi para sahabat Nabi kala itu,ataupun pertanyaan yang disampaikan oleh orang-orang kafir. Namun ada juga ayat al-Qur’an yang diturunkan tetapi tidak mempunyai Asbab an-Nuzul seperti ayat al-Qur’an yang diturunkan untuk menceritakan umat-umat Nabi terdahulu atau menjelaskan tentang perkara-perkara gaib yang akan terjadi di hari nanti. Seperti ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang surga atau neraka, ataupun ayat al-Qur’an yang menggambarkan tentang kejadian hari kiamat nanti, ayat-ayat al-Qur’an yang seperti itu diturunkan tidak mempunyai \Asbab an-Nuzul.Ayat al-Qur’an seperti itu, diturunkan oleh Allah dimaksudkan untuk memberikan hidayah kepada umatmanusia agar mau mengambil hikmah dari semua kejadian yang diceritakan oleh al-Qur’an terutama ayat al-Qur’an yang menceritakan tentang adzab, musibah dan bencana dari Allah yang diturunkan kepada ummat-ummat terdahulu yang merupakan akibat dari perbuatan dosa yang telah mereka lakukan. Sehingga kita semua mau kembali ke jalan yang benar yang diridhoi oleh Allah Swt untuk tidak melakukan dosa dan maksiat kepada Allah Swt.
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt. sebanyak 30 juz, 114 surah, 6.236 ayat. Isi kandungannya dibagi menjadi tiga bagian. Sebagian dari isi al-Qur’an menjelaskan tentang sifat wajib Allah. Sebagian yang lain isi kandungan al-Qur’an menjelaskan tentang hukum-hukum syariat Islam dan sebagian diantaranya menceritakan tentang kejadian dan perilaku umat nabi terdahulu baik umat yang beriman kepada Allah ataupun umat yang inkar kepada-Nya.
Ada sebuah pertanyaan yang sangat sederhana. al-Qur’an adalah kalamullah (Firman Allah), Kalamullah secara tinjauan ilmu tauhid adalah sesuatu yang tidak ada huruf dan tidak ada suaranya, ( Maa laisa biharfin walaa sautin ) tapi kenapa al-Qur’an yang merupakan kalamullah ternyata ada huruf dan ada suaranya bila dibaca? Dalam sebuah keterangan dijelaskan bahwa kalamullah terbagi menjadi 2 (dua) bagian:
1. Ada kalamullah sebangsa sifat yang maha terdahulu yang melekat pada dzatnya Allah. Kalamullah seperti itu yang tidak ada huruf dan suaranya;
2. Ada Kalamullah sebangsa lafadz yang diturunkan kepada para Nabi/Rasul, Kalamullah yang seperti ini yang ada huruf dan suaranya. Seperti al-Qur’an, Taurot, Injil dan Zabur.
Untuk itu, dengan momentum bulan Ramadlan ini mari kita sama-sama untuk membudayakan agar rumah, kantor, masjid/mushola dan sekolahkita selalu dihiasi dengan bacaan al-Qur’an. Jadikan generasi muda kita generasi yang cinta al-Qur’an, jadikan hidup kita agar selalu berpegang teguh dengan ajaran al-Qur’an. Insya Allah semakin sering kita membaca dan mengamalkan perintah al-Qur’an semakin besar harapan kita untuk mendapatkan syafa’at dari al-Qur’an di hari Kiamat nanti. Amiin.
Read more...

Sabtu, 27 Juli 2013

KHUTBAH IBLIS YANG SANGAT MENYENTUH HATI

0 komentar



Bismillahirrahmanirrahim,

Iblis berkhutbah…??, benar…ia berkhutbah…bahkan khutbah yang paling menyentuh hati…tidak ada khutbah yang menyentuh hati sebagaimana khutbah Iblis ini.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ ، قَامَ إِبْلِيْسُ خَطِيْبًا عَلَى مِنْبَرٍ مِنْ نَارٍ ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ

"Tatkala hari kiamat Iblis berdiri di atas sebuah mimbar dari api lalu berkhutbah seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya…" (Tafsiir At-Thobari 16/563)

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

يُخْبِرُ تَعَالَى عَمَّا خَطَبَ بِهِ إِبْلِيْسُ أَتْبَاعَهُ، بَعْدَمَا قَضَى اللهُ بَيْنَ عِبَادَهُ، فَأدخل المؤمنين الجنات، وأسكن الكافرين الدركات، فقام فيهم إبليس -لعنه الله -حينئذ خطيبا ليزيدهم حزنا إلى حزنهم (4) وغَبنا إلى غبْنهم، وحسرة إلى حسرتهم

"Allah mengabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya, yaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke surga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam. Maka Iblispun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan…." (Tafsiir Al-Qur'an Al-'Adziim 4/489)

Khutbah tersebut disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya pada saat yang sangat menegangkan…tatkala mereka pertama kali dimasukkan ke dalam neraka jahannam…tatkala mereka telah melihat api yang menyala-nyala yang siap membakar mereka…!!!

Khutbah tersebut…

Benar-benar masuk ke dalam hati para pengikut Iblis…,

Khutbah yang mengalirkan air mata mereka…

khutbah yang benar-benar telah menyadarkan mereka akan kesalahan-kesalahan mereka…

Khutbah yang menyadarkan mereka bahwasanya selama ini mereka hanya terpedaya oleh sang pemimpin…sang khotiib…Iblis la’natullah 'alaihi

Allah menyebutkan khutbah Iblis yang sangat menyentuh tersebut:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٢)وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ (٢٣)

"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih".
Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka" (QS Ibrahim : 22-23)

Demikianlah khutbah Iblis tersebut….setelah ia menggoda manusia…setelah menipu mereka…setelah menjerumuskan mereka dalam neraka…setelah tercapai cita-citanya…lalu…

Iapun berlepas diri dari para pengikutnya. Ia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas godaan-godaannya…

Bahkan ia sama sekali tidak mau disalahkan dan dicela…akan tetapi ia menyuruh mereka (para pengikutnya) untuk mencela diri mereka sendiri…

Bahkan ia mengaku sejak dulu kufur/ingkar terhadap kesyirikan yang dilakukan oleh pengikutnya…

Yang lebih menjadikan para pengikutnya tersentuh, Iblis menutup khutbahnya dengan menyatakan bahwa "Sesungguhnya orang-orang zalim mendapatkan siksaan yang pedih"…lalu Iblis menyebutkan tentang kenikmatan penduduk surga, yaitu orang-orang yang tidak mau menjadi pengikut Iblis…!!!

Sungguh kehinaan dan kesedihan yang tidak bisa terbayangkan dalam hati para penghuni neraka tatkala mendengar khutbah dari sang pemimpin…

Semoga Allah menjaga kita dari rayuan Iblis…jangan sampai kita termasuk dari orang-orang yang tersentuh karena kutbah Iblis ini….orang-orang yang tatkala di dunia tidak tersentuh oleh nasehat-nasehat, tidak tergerak hati mereka tatkala mendengar pengajian-pengajian dan khutbah-khutbah…hati mereka hanyalah tergerak dan tersentuh tatkala mendengar khutbah Iblis….wal'iyaadzu billah.
Read more...

Kamis, 25 Juli 2013

TUNDUKANLAH HATI

0 komentar


Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Hasan Al-Bashri seorang ulama’ terkemuka yang berasal dari Bashrah, Iraq menyaksikan seorang pemuda datang kepada seorang dokter yang menanyakan perkara berikut :
Wahai dokter, apakah tuan memiliki resep atau obat mujarab yang bisa menghapuskan
dosa-dosa dan menyembuhkan penyakit hati?
Doktor itu menjawab : Ya!
Pemuda itu berkata lagi : Berikan pada saya resep mujarab itu!
Doktor berkata : “Ambillah sepuluh bahan pelebur dosa itu :

SEPULUH BAHAN PELEBUR DOSA
PERTAMA :
Ambillah akar pohon rasa ‘fakir’ dan berhajat kepada Allah bersama dengan akar kerendahan hati yang tulus dan ikhlas kepada Allah.

KEDUA :
Jadikan ‘taubat’ sebagai campurannya.

KETIGA :
Lalu masukkan ia dalam wadah ‘ridha’ atas semua ketentuan dan takdir Allah.

KEEMPAT :
Campurkan dengan campuran ‘qana’ah’ rasa puas dengan apa yang telah Allah berikan
kepada kita.

KELIMA :
Masukkan dalam kuali ‘takwa’.

KEENAM :
Tuangkan ke dalamnya air ‘rasa malu’.

KETUJUH :
Lalu didihkanlah dengan api ‘cinta’.

KELAPAN :
Kemudian masukkan dalam adonan ‘syukur’.

KESEMBILAN :
Serta keringkan dengan kipasan ‘harap’.

KESEPULUH :
Lalu akhirnya minumlah dengan sendok ‘pujian’.
Jika engkau mampu melakukannya pastilah engkau mampu mencegah penyakit dan berbagai ujian samada di dunia mahupun akhirat” jelas doktor itu.
APABILA HILANG RASA FAKIR

Ramai orang yang melakukan dosa dan kesalahan terhadap Allah kerana dia merasa cukup dengan kemampuan dirinya dan seakan-akan tidak lagi memerlukan (rasa fakir) kepada sesiapapun, termasuk pada Yang Maha Kaya.
Dia beranggapan bahwa dirinya mampu melakukan semua perkara dengan :
a. Kekuatannya.
b. Kemampuannya.
c. Potensi dirinya.
d. Tenaga dirinya.
Dia merasa bahwa semua yang dia dapatkan adalah hasil dari :
1. Kekuatan fikirannya.
2. Kemampuan ilmunya.
3. Kejernihan pengiraannya.
4. Kematangan perhitungannya.
Inilah yang berlaku kepada Qarun yang angkuh dengan harta yang dimilikinya yang kemudiannya Allah turunkan azab kepadanya dengan ditelankannya dia oleh bumi yang tidak lagi suka pada :
a. Kecongkakannya.
b. Kesombongannya.
c. Keangkuhannya.
yang dipamerkannya sehingga membuatkan bumi merasa marah.

APABILA HILANG RASA RIDHA

Sumber dosa lainnya adalah kerana orang itu ‘tidak ridha’ dengan apa yang Allah tetapkan pada dirinya.
Sering kali dari bibirnya keluar keluhan dan bahkan kritikan kepada Allah kenapa Allah tidak memberikan yang “terbaik” :
1. Menurut pandangannya.
2. Menurut persepsinya.
3. Menurut pemikirannya.
Dia menyangka bahwa apa yang dia alami ketika ini :
1. Tidaklah sesuai bagi dirinya.
2. Tidak patut untuk dirinya.
3. Tidak layak untuk diterima.
Dia seakan-akan lebih tahu dari Allah Yang Maha Tahu yang mengetahui dengan terperinci semua perkara samada yang baik mahupun yang buruk bagi hambaNya.
Inilah yang berlaku kepada Qabil tatkala menuntut ayahnya agar dia dikahwinkan dengan adik kembarnya padahal Allah swt telah menentukan keputusan yang lain untuknya.
Lambat kembali kepada Allah merupakan penyebab lain dari tidak terhapusnya dosa-dosa yang kita lakukan.

BERTAUBATLAH!

Berlaku mendapan dosa kerana seringkali kita menunda ‘taubat’ yang sepatutnya kita lakukan dengan cepat.
Padahal Allah swt memerintahkan kita untuk segera merapatkan diri kepada Allah setelah beberapa lama kita telah menjauhinya.
Getarkanlah hati kita semua dengan kesesalan di atas semua kesalahan yang kita lakukan.
Mereka seakan-akan tidak tahu bahwa Allah swt sentiasa menerima taubat hambaNya dan Allah sangat senang dengan taubat mereka.
Ini sebagaimana firman Allah swt :
“Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima sedekah, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (QS At-Taubah : 104)

APABILA HILANG RASA SYUKUR

Rasa tidak puas dengan apa yang Allah berikan pada kita merupakan penyakit kronik yang melahirkan :
1. Buruk sangka kepada Allah.
2. Menyangkal kehendak Allah.
3. Menyalahkan Allah.
Rasa tidak puas dengan kurniaan Allah akan mengecilkan rasa ‘syukur’ kita kepadaNya dan bahkan satu ketika akan memadamkannya.

APABILA HILANG RASA QANA’AH

Lenyapnya rasa ‘qana’ah’ di atas segala kurniaanNya akan membuahkan ketamakan dan ketamakan akan melahirkan kezaliman-kezaliman manakala dari kezaliman akan memunculkan kerosakan-kerosakan yang akan menghancurkan susunan kehidupan.

SEMARAKKAN RASA TAKWA

Jika dalam diri kita telah ada rasa kefakiran, rasa ridha dan qana’ah dan taubat maka semangat ‘takwa’ kepada Allah hendaknya kita pupuk terus menerus dan kita bina dengan saksama.
Ini adalah kerana ketakwaan itu laksana sebuah tanaman yang jika dibina dengan sebaik-baiknya maka dia akan tumbuh subur dan indah dan jika kita biarkan maka ketakwaan itu akan segera layu dan lesu.
Ketakwaan boleh kita sirami dengan dengan :
a. Rasa takut kepada Allah.
b. Mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.
c. Puas dengan apa yang ada.
d. Mempersiapkan diri sepenuhnya untuk perjalanan akhir kita iaitu kematian.
Jadikan ‘takwa’ terus menerus tumbuh, berkembang dan berterusan sampai maut datang menjelang.

KEKUATAN RASA MALU
Hendaknya kita merangsang ketakwaan kita sehingga kita merasa ‘malu’ untuk melanggar setiap perintah dan larangan Allah samada di khalayak ramai ataupun bersendirian.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran : 102)

HADIRKAN SEMANGAT CINTA
Ketakwaan kita akan semakin bermakna apabila yang menjadi pendorongnya adalah‘cinta’ (mahabbah) kepada Allah.
‘Cinta’ kepada Allah sepenuh jiwa dan hati yang tidak lagi membuatnya berfikir atau merasa rugi dalam melaksanakan perintah dan anjuranNya.
Semangat cinta yang membakar hatinya akan sentiasa menggerakkannya untuk sentiasa :
1. Dekat denganNya.
2. Merapatkan diri kepadaNya.
3. Giat berusaha untuk mencapai ridha dan kasihNya.
4. Meminum melalui cawan rahmatNya.
dalam setiap langkah-langkah hidup dan goresan sejarahnya.
Rasa cintanya yang menggelegak kepada Allah akan sentiasa membuatkan :
a. Hidupnya terasa benar-benar bermakna.
b. Langkahnya penuh pasti menuju Kekasihnya.
c. Cawan cintanya sentiasa dipenuhi dengan air mata takwa, ridha, qana’ah, taubat, syukur, tawakkal dan sabar.

TINGGIKAN RASA HARAP

Bagi para pencinta, yang di’harap’kannya bukan lagi dirinya tapi Zat yang dicintainya dan dia :
1. Larut dalam gelombang kasihNya.
2. Larut dalam rahmatNya.
3. Masuk dalam dakapan ridhaNya.

PUJIAN YANG TIADA BATAS

Akhirnya pujian yang setinggi-tingginya hendaklah diangkat kepada Zat yang memang berhak untuk itu.
Oleh yang demikian, ramuan kefakiran kepada Allah adalah :
Taubat + Ridha + Qana’ah + Takwa + Malu + Cinta + Syukur + Harap + Pujian kepada Allah.
Di mana ianya akan membersihkan dosa kita serta mencairkan kesalahan kita.
Yakinlah bahwa resepi ini, selain mampu menghapuskan dosa kita, ia juga akan menambah kesegaran keimanan kita serta menambah tenaga keislaman kita dan memantapkan akar ihsan kita.
Selamat mencoba dan insyaAllah kita akan merasai khasiatnya dengan hasil jiwa yang segar dan jernih serta dosa yang minima setiap hari.
Ya Allah, berilah kemudahan kepada kami untuk kami menggunakan ubat dan resepi dariMu yang cukup berkesan untuk menimbulkan rasa fakir dan bergantung kepadaMu, menghapuskan segala dosa-dosa kami, menambah kesegaran keimanan kami serta memantapkan hakikat ihsan kami terhadapMu.
Amienn Ya Rabbal Alamienn
Read more...

Senin, 22 Juli 2013

YA ALLAH, TEGUHKAN KAMI DI ATAS AGAMA-MU!

0 komentar

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berdoa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Robb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

[HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]
Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:
‎اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubana ‘ala tho’atik.”
[Ya Allah yang memalingkan (membolak-balikkan) hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu]
[HR. Muslim (no. 2654)]
Hadits-hadits yang berkaitan dengan dzikir diatas
Hadits pertama
Nawwas bin Sam’an Al Kilabi berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا وَهُوَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Tidak ada satu hati pun kecuali ia berada di antara dua jari dari Jari-Jemari Rabb semesta alam.
إِنْ شَاءَ أَنْ يُقِيمَهُ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَنْ يُزِيغَهُ أَزَاغَهُ
Jika Dia ingin memberikannya keistiqamahan niscaya Ia akan berikan keistiqamahan padanya. Dan jika Dia ingin memalingkannya (dari Islam) niscaya akan dipalingkan-Nya dari Islam.”
Dan beliau berdo’a:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
“YAA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QULUUBANAA ‘ALAA DIINIK
(Wahai Dzat yang membulak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu).
وَالْمِيزَانُ بِيَدِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ يَخْفِضُهُ وَيَرْفَعُهُ
Dan Al Mizan juga berada di Jari Ar Rahman ‘azza wajalla Dia lah yang meringankan dan mengangkatnya.”
(HR. Ahmad; dishahiihkan syaikh muqbil dalam shahiihul musnad)
Hadits kedua
dari Anas ia berkata; Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam banyak mengucapkan doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“YA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBI ‘ALA DINIK”
(ya Allah Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu).
Anas berkata; Maka kami (PARA SHAHABAT) berkata;
“Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada wahyu yang engkau bawa, maka apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?”
Beliau menjawab:
نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
“Ya, sesungguhnya hati itu berada di antara jari-jari Allah ‘azza wajalla, Dialah yang membolak-balikkannya.”
(HR. Ahmad; Ibnu ‘Adiy berkata didalamnya terdapat perawi yang bernama Abu Sufyan dan dia tidak mengapa.)
Dalam riwayat at-Tirmidziy dengan lafazh:
‎نعم إن القلوب بين إصبعين من أصابع الله يقلبها كيف شاء
Benar, sesungguhnya hati itu berada diantara jari-jari Allah, Ia membolak-balikannya sekehendakNya.
(HR.at Tirmidizy dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam shahiih at Tirmidziy)
Hadits ketiga
dari ‘Aa-isyah radhiyallahu ‘anhaa berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak mengucapkan;
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ
“YA MUQALLIBAL QULUUB, TSABIT QALBI ‘ALA DINIK, WA THAA’ATHIK
(Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu).”
Lalu dikatakan kepada beliau, wahai Rasulullah! Affan telah berkata; Aisyah telah berkata kepadanya, sesungguhnya engkau memperbanyak membaca;
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ
“YA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBI ‘ALA DINIK, WA THAA’ATHIK
(Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu).”
Beliau bersabda:
وَمَا يُؤْمِنُنِي وَإِنَّمَا قُلُوبُ الْعِبَادِ بَيْنَ أُصْبُعَيْ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقَلِّبَ قَلْبَ عَبْدٍ قَلَّبَهُ قَالَ عَفَّانُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Apa yang membuatku aman, sesungguhnya hati hamba berada diantara dua ujung jari-jemari Arrahman, apabila Ia berkehendak untuk memabalikkan hati seorang hamba maka Ia akan membalikkannya.”
(HR. Ahmad; dalam hadits ini terdapat perawi yang MAJHULAH yaitu: AMANAH BINTI ABDILLAH; dan juga terdapat perawi yang LEMAH yaitu: ‘ali bin zaid)
Namun dalam riwayat lain; yang berbunyi:
dari ‘Aa-isyah radhiyallahu ‘anhaa berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak mengucapkan;
‎يامثبت القلوب ثبت قلبي على دينك
Yaa mutsabbital quluub tsabbit qalbiy ‘ala diinik
Bersabda Rasulullah:
‎نعم و ما يؤمني أي عائشة و قلوب العباد بين إصبعين من أصابع الرحمن ؟
Benar, akan tetapi siapakah yang merasa aman wahai ‘aa-isyah; sedangkan hati seorang hamba berada diantara jari-jemari ar-rahmaan?!
(Maka hadits ini DISHAHIIHKAN oleh Syaikh al-albaaniy dalam takhrij kitaabus sunan)
Hadits keempat
Ditanyakan kepada Ummu Salamah;
“Wahai Ummul mukminin! Do’a apakah yang paling banyak Rasulullah shalallahu’alahi wa sallam baca ketika bersamamu?”
ia menjawab;
“Do’a beliau yang paling banyak adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALA DIINIKA
(Wahai yang membolak-balikkan hati! Teguhkanlah hatiku senantiasa di atas agamamu).”
Ia berkata; “Lalu aku bertanya kepada beliau, Wahai Rasulullah! Kenapa do’a yang paling banyak engkau baca:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALA DIINIKA
(Wahai yang membolak-balikkan hati! Teguhkanlah hatiku senantiasa di atas agamaMu)?”
beliau menjawab;
يَا أُمَّ سَلَمَةَ مَا مِنْ آدَمِيٍّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا شَاءَ أَقَامَ وَمَا شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah! Tidaklah anak keturunan Adam kecuali hatinya berada di antara dua jari dari-jari Allah Azzawajalla. Bila Ia berkehendak akan meluruskannya dan bila Ia berkehendak maka akan menyesatkannya.”
(HR. Ahmad; dalam sanadnya terdapat “Syahar bin Hawsyab” dan dia didhaifkan para ulama)
Namun dalam riwayat lain, dengan lafazh
‎يا أم سلمة ما من آدمي إلا قلبه بين إصبعين من أصابع الرحمن ، ما شاء أقامه ، و ما شاء أزاغه
“Wahai Ummu Salamah! Tidaklah anak keturunan Adam kecuali hatinya berada di antara dua jari dari-jari ar Rahmaan. Bila Ia berkehendak akan meluruskannya dan bila Ia berkehendak maka akan menyesatkannya.”
(maka hadits ini diSHAHIIHkan syaikh al Albaaniy dalam takhrij kitabus sunan)
Dalam riwayat lain:
Ummu Salamah meceritakan bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam memperbanyak dalam do’anya:
اللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
ALLAHUMMAA MUQALLIBAL QULUB TSABIT QALBI ‘ALA DINIK
(Ya Allah, yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu).
Ia berkata; saya berkata; “Wahai Rasululah! Apakah hati itu berbolak balik?”
beliau menjawab:
نَعَمْ مَا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ بَشَرٍ إِلَّا أَنَّ قَلْبَهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ
“Ya, tidaklah ciptaan Allah dari manusia anak keturunan Adam kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah.
فَإِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ اللَّهُ أَزَاغَهُ
Bila Allah Azzawajalla berkehendak, Ia akan meluruskannya, dan jiwka Allah berkehendak, Ia akan menyesatkannya.
فَنَسْأَلُ اللَّهَ
Maka kami memohon kepada Allah;
رَبَّنَا أَنْ لَا يُزِيغَ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا
‘Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah kami diberi petunjuk.’
وَنَسْأَلُهُ أَنْ يَهَبَ لَنَا مِنْ لَدُنْهُ رَحْمَةً إِنَّهُ هُوَ الْوَهَّابُ
Dan kami memohon kepada-Nya supaya memberikan kepada kita rahmat dari sisinya, sesungguhnya dia adalah Maha Pemberi’.”
Saya bertanya; “Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau mengajarkan do’a, supaya aku berdo’a dengannya untuk diriku?”
Beliau menjawab:
بَلَى قُولِي
“Baik, ucapkanlah:
اللَّهُمَّ رَبَّ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ
ALLAHUMMA RABBA MUHAMMADINNABI
Ya Allah, Rabb-nya nabi Muhammad
اغْفِرْ لِي ذَنْبِي
IGHFIR LII DZANBI
ampunilah dosaku,
وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِي
WA ADZHIB GHAIZHA QALBI
dan hilangkanlah kemarahan yang ada di hatiku,
وَأَجِرْنِي مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ مَا أَحْيَيْتَنَا
WA AJURNI MIN MUDHILATIL FITAN MAA AHYAYTANA
dan berilah aku pahala dalam menghadapi kesesatan dan fitnah selama Engkau masih menghidupkan kami).”
(HR. Ahmad; diSHAHIIHkan syaikh Ahmad Syaakir)
Read more...

Sabtu, 20 Juli 2013

Mengenal Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah

0 komentar



1.  Wujud                           : "Ada" Mustahil "Tiada"
     Firman Allah                  : "Allahul Ladzi kholaqossamawati wal ardho wamaa bainahumaa"
     Artinya                          : "Allah taala yang menciptakan langit dan bumi serta isinya diantara keduanya"

2.  Qidam                           : "Terdahulu", Mustahil, "Didahului"
     Firman Allah                  : "Huwal Awwalu Wal Akhiru"
     Artinya                          : "Dialah Allah yang terdahulu dan kemudian"     

3.  Baqo                             : "Kekal", Mustahil, "Fana"
     Firman Allah                  : "Huwal Awwalu Wal Akhiru"
     Artinya                          : "Dialah Allah yang terdahulu dan kemudian"      

4.  Mukholafatulilhawadits   : "Berbeda dengan yang lain", Mustahil, "Sama dengan yang lain"
     Firman Allah                  : "Laitsa Kamitslihii syai-un"
     Artinya                          : "Ia tidak serupa dengan apapun"                         
  
5.  Qiyamuhu Binafsihi        : "Berdiri dengan sendirinya", Mustahil, "Berdiri pada yang lain"
     Firman Allah                  : "Innallaha laghoniyyun A'nil Aa'lamiin"
     Artinya                          : "Sesungguhnya Allah Maha kaya dari pada kalian"

6.  Wahdaaniyat                 : "Esa", Mustahil, "Berbilang-bilang"
     Firman Allah                  : "Qul Huwallahu Ahad"
     Artinya                          : "Katakanlah dialah Allah yang maha esa (tunggal)"

7.  Qudrat                          : "Kuasa", Mustahil, "Tidak kuasa (mustahil)"
     Firman Allah                  : "Innallaha A'la kullii Syai-in Qadiir"
     Artinya                          : "Sesungguhnya Allah maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu"    

8.  Iradat                            : "Menghendaki", Mustahil, "Terpaksa"
     Firman Allah                  : "Fa'aalun Limaa yuriid"
     Artinya                          : "Maha berkehendak pada sesuatu yang ia kehendaki"

9.  Ilmu                               : "Mengetahui", Mustahil, "Tidak mengetahui"
     Firman Allah                  : "Wallahu bikulli syai-in A'liim"
     Artinya                          : "Allah dengan segala sesuatunya maha mengetahui"

10.Hayat                            : "Hidup", Mustahil, "Mati"
     Firman Allah                  : "Watawatakall A'la Hayyil Ladzii laa Yamuut"
     Artinya                          : "Bertaqwalah kamu kepada Allah yang hidup dan tidak akan mati"

11.Sama                             : "Mendengar", Mustahil, "Tuli"
     Firman Allah                  : "Wallahu samii'un A'liim"
     Artinya                          : "Allah maha mendengar dan maha mengetahui"

12.Bashar                           : "Melihat", Mustahil, "Buta"
     Firman Allah                  : "Wallahu Bashirun Bimaa Ta'maluun"
     Artinya                          : "Allah maha melihat dengan perbuatan yang kamu kerjakan"

13.Kalam                            : "Berkata", Mustahil, "Bisu"
     Firman Allah                  : "Wakalamallahu Muusaa Takliima"
     Artinya                          : "Berkata Allah kepada Nabi Musa As dengan kalam yang sempurna"

14.Qoodirun                       : "Maha kuasa", Mustahil, "Tidak kuasa"
     Firman Allah                  : "Innallaha A'laa kulli Syai-in Qodiir"
     Artinya                          : "Sesungguhnya Allah maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu"

15.Muriidun                        : "Maha menghendaki", Mustahil, "Terpaksa"
     Firman Allah                  : "Fa'aalun Limaa yuriid"
     Artinya                          : "Maha berkehendak pada sesuatu yang kita kehendaki"

16.Aa'limun                        : "Maha mengetahui", Mustahil, "Tidak tahu"
     Firman Allah                  : "Wallaahu Bikulli sya-in A'aliimu"
     Artinya                          : "Allah dengan segala sesuatunya maha mengetahui"


17.Hayyun                          : "Maha hidup", Mustahil, "Mati"
     Firman Allah                  : "Watakal A'lal Hayyil Ladzii laa Yamuut"
     Artinya                          : "Bertakwakallah kamu kepada Allah yang hidup dan tidak akan mati"

18.Samii'un                         : "Maha mendengar", Mustahil, "Tuli"
     Firman Allah                  : "Wallaahu Bikulli Sya-in A'aliimu"
     Artinya                          : "Allah maha mendengar dan maha mengetahui"

19.Bashiirun                       : "Maha melihat", Mustahil, "Buta"
     Firman Allah                  : "Wallahu Bashiirun Bimaa Ta'maluun"
     Artinya                          : "Sesungguhnya Allah maha melihat dengan perbuatan yang kamu kerjakan"

20.Mutakallimun                 : "Maha berkata", Mustahil, "Bisu"
     Firman Allah                  : "Wakallahu Muusaa Taklima"
     Artinya                          : "Berkata Allah kepada Nabi Musa As dengan kalam yang sempurna"
Read more...