Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Oktober 2013

DOSA YANG LEBIH BESAR DARI BERZINA

0 komentar

سْـــــــمِ أللَّهِ ألرَّحْمَنِ ألرَّحِيْ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

♥ Renungan Malam Minggu ♥
ﷲ¸¸.•**•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•
•*¨*•.¸¸ﷲ
(¯`♥´¯)
´*.¸.•´♥



DOSA YANG LEBIH BESAR DARI BERZINA
♥~♥~♥~♥~♥~♥~♥~♥~♥~♥~♥~♥~♥~♥~♥

Pada suatu senja yang lengang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-hayung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahawa ia berada dalam dukacita yang mencekam.

Tudungnya menutup hampir seluruh wajahnya tanpa hias muka atau perhiasan yang menghiasi di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang telah menyayat hidupnya.

Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu perlahan-lahan sambil memberi salam.

Maka terdengarlah ucapan dari dalam,
"Silakan masuk"

Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus menunduk. Air matanya
berderai tatkala ia berkata,
"Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya."

"Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa a.s. terkejut.

"Saya takut mengatakannya."jawab wanita cantik..

"Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.

Maka perempuan itupun bercerita, "Saya... telah berzina".

Kepala Nabi Musa terangkat,hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan,
"Dari perzinaan itu saya pun... hamil. Setelah anak itu lahir,langsung saya... cekik lehernya sampai... mati," ucap wanita itu seraya menangis terisak-isak..

Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik,
"Perempuan laknat , pergi kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku kerana perbuatanmu. Pergi!"...teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata kerana jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa..

Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu.. Bahkan ia tak tahu mahu dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya.

Ia tidak tahu bahawa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya,
"Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?"

Nabi Musa terperanjat.
"Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?"
Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.
"Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?"

" Ada!" jawab Jibril dengan tegas.

"Dosa apakah itu?" tanya Nabi Musa.

"Orang yang meninggalkan solat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina".

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahawa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Bererti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan
tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.

Sedang orang yang bertaubat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh bererti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahawa Allah itu ada, di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mahu menerima kedatangannya.

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadis Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban solat dengan istiqamah.

♥ Bagaimana jika berzinah & Tidah Sholat ? ♥
Read more...

DO'A SEPUTAR PAKAIAN

0 komentar

Kita bersyukur dan memuji Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kemudian shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, istri, keluarga, sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari yang dijanjikan, amma ba’du:
Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang tidak menyisakan sesuatupun melainkan telah dijelaskan kepada munusia untuk menjalankannya, termasuk dalam memakai dan menanggalkan pakaian, berikut doa dan dzikir seputar pakaian:
1. Doa Ketika Mengenakan Pakaian
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang memberi pakaian ini kepadaku sebagai rezeki daripada-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku”.
2. Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru
اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ
“Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji, Engkaulah yang memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang ia diciptakan karenanya”.
3. Doa Kepada Orang yang Mengenakan Pakaian Baru
تُبْلِي وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى
“Kenakanlah sampai lusuh, semoga Allah Ta’ala memberikan gantinya ke-padamu”.
اِلْبِسْ جَدِيْدًا، وَعِشْ حَمِيْدًا، وَمُتْ شَهِيْدًا
“Berpakaianlah yang baru, hiduplah dengan terpuji dan matilah dalam kea-daan syahid”.
4. Bacaan Ketika Melepaskan Pakaian
بِسْمِ اللهِ
“Dengan nama Allah (aku meletakkan baju)”.
Itulah empat keadaan dalam berdoa dan berdzikir seputar pakaian yang kami kutip dari terjemah hisnul muslim dan dalam eBook ini akan disertakan asal dan syarah (penjelasan) dari kelima doa tersebut, dan kami berdoa kepada Allah azza wa jalla agar dapat melanjutkan eBook ini dan mencompilenya dalam sebuah eBook CHM, seseungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Mengabulkan Doa…
Read more...

Minggu, 29 September 2013

SHALAT ISTIKHARAH

0 komentar
Banyak diantara kita yang berpikiran bahwa shalat istikharah dilakukan pada urusan-urusan yang membuat galau saja. Contohnya milih sekolah, pekerjaan, jodoh, dll. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, tapi ayo kita coba baca lagi apa itu istikharah sesuai ajaran Nabi.  Coba kita lihat hadits berikut.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami istikharah dalam setiap urusan yan kami hadapi sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Qur’an. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang dari kalian menghadapi masalah maka ruku’lah (shalat) dua raka’at yang bukan shalat wajib kemudian berdo’alah: 
Allahumma inniy astakhiiruka bi ‘ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa ‘Abdullah’lamu wa anta ‘allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amru khairul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” atau; ‘Aajili amriy wa aajilihi faqdurhu liy wa yassirhu liy tsumma baarik liy fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amru syarrul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” aw qaola; fiy ‘aajili amriy wa aajilihi fashrifhu ‘anniy washrifniy ‘anhu waqdurliyl khaira haitsu kaana tsummar dhiniy.”
(Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian jadikanlah aku ridha dengan ketetapan-Mu itu”. Beliau bersabda: “Dia sebutkan urusan yang sedang diminta pilihannya itu”. (HR. Al-Bukhari no. 1162)
Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu
1) hadits ini menerangkan bahwa istikharah dilakukan setelah kita memutuskan salah satu dari pilihan2 kita. Yaitu memantapkan pilihan yang sudah kita pilih. Dengan istikharah tsb, kita minta kpd Allah agar diberikan kemudahan apabila pilihan kita tadi baik, dan diberi hambatan apabila buruk. Setelah istikharah selesai, maka kita lakukan urusan yang sudah kita pilih tadi, dengan keyakinan bahwa bila baik maka Allah akan mempermudah, namun jika buruk, maka Allah akan mempersulit.
Dalam memilih tadi, Islam sudah memebuat dasar pemilihan yang jelas, yaitu halal-mubah-makruh-haram. Namun, jika kita masih ragu dan belum memutuskan, maka diperbolehkan istikharah agar dicondongkan kepada pilihan yang baik.
2) Istikharah dilakukan pada perkara mubah. Bukan perkara yg sudah jelas hukumnya (haram-halal)
3) Diperbolehkan menggabungkan shalat istikharah dgn shalat sunnah lainnya. Contoh meniatkan shalat istikharah bersamaan dgn shalat rawatib, setelah itu doa istikharah setelah salam
4)Istikharah boleh dilakukan berulang-ulang. Dalam shahih Muslim, Ibnu Zubair mengatakan “Aku melakukan istikhoroh pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.”
5) Do’a istikharah dibaca di akhir shalat, bukan di dalam shalat.
6) Melihat dalam mimpi mengenai jawaban istikharah itu TIDAK ada dalilnya sama sekali.
Jawaban istikharah di dapat melalui tanda-tanda nyata, yang paling utama adalah kemantapan hati dan kemudahan2 yg didatangkan Allah dalam menjalankan pilihan tsb.
Jadi kesimpulannya, tata cara istikharah adalah sebagai berikut.
  1. Pilihlah satu pilihan diantara beberapa pilihan yang membuat ragu
  2. Shalat dua istikharah dua rakaat, atau boleh digabung dengan shalat sunnah lain.
  3. Baca doa istikharah
  4. Jalankan pilihan tadi, jika baik maka akan datang kemudahan dari Allah, jika buruk maka akan dipersulit oleh Allah.
TATA CARA SHALAT ISTIKHARAH
Lafaz niat:-
Ushalli Sunnatal Istikharaati Rak’ataini Lillahi Ta’aala
Sahaja Aku sembahyang sunnat istikharah 2 rakat tunai kerana Allah Ta’ala

Rakaat pertama-
Baca surah Al-fatihah dan surah Al-kafirun

Rakaat kedua-
Baca surah Al-fatihah dan surah Al-ikhlas
Selepas salam, bacalah doa yang disarankan dalam istikharah.
Dalam berdoa sebaiknya menyebutkan permintaan yang ingin diberikan petunjuk oleh Allah s.w.t. misalnya: “Ya Allah, jika hal ini….(sebutkan namanya)”


Doa istikharah

Setelah selesai solat, berdoa seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW:

doa-istikhaerah
Allaahumma inni astakhiiruka bi’ilmika, wa astaqdiruka biqudratika wa as aluka min fadhlikal azhiim. Fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wata’lamu wa laa a’lamu, wa anta allaamul ghuyuub.

Allaahumma inkunta ta’lamu anna haadzal amra khairun lii fii diinii wama’aasyii wa ‘aaqibati amrii, ‘aajili amrii wa aajilihi faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarikliifiihi. Wa inkunta ta’lamu anna haadzal amra syarrun lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibatu amrii ‘aajili amrii wa aajilihi fashrif annii washrifni ‘anhu waqdur liyal khairahaytsu kaana tsumma ardhinii bihi, innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir


Artinya:-
“Ya Allah, aku memohon petunjuk memilih yang baik dalam pengetahuanMu, aku mohon ditakdirkan yang baik dengan kudratMu, aku mengharapkan kurniaMu yang besar. Engkau Maha Kuasa dan aku adalah hambaMu yang dhaif. Engkau Maha Tahu dan aku adalah hambaMu yang jahil. Engkau Maha Mengetahui semua yang ghaib dan yang tersembunyi.
Ya Allah, jika hal ini (***) dalam pengetahuanMu adalah baik bagiku, baik pada agamaku, baik pada kehidupanku sekarang dan masa datang, takdirkanlah dan mudahkanlah bagiku kemudian berilah aku berkah daripadanya.
Tetapi jika dalam ilmuMu hal ini (***) akan membawa bencana bagiku dan bagi agamaku, membawa akibat dalam kehidupanku baik yang sekarang ataupun pada masa akan datang, jauhkanlah ia daripadaku dan jauhkanlah aku daripadanya. Semoga Engkau takdirkan aku pada yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas setiap sesuatu.”
Read more...

Kamis, 12 September 2013

DO'A QUNUT DAN TERJEMAHANNYA

0 komentar


Do'a Qunut adalah do'a yang di baca saat kita melakukan sholat subuh pada rokaat ke dua setelah rukuk. Berikut adalah bacaan do’a Qunut dan artinya, untuk Anda yang masih bingung dan belum hafal dengan bacaan doa qunut, ini dia bacaannya :


ALLAHUMMAHDINII FIIMAN HADAIIT

Artinya : Ya Allah berikanlah aku petunjuk sebagaimana orang yang Engkau beri petunjuk





WA'AAFINII FIIMAN 'AAFAIIT

Artinya : Dan berikanlah keselamatan padaku sebagaimana mereka yang telah Engkau beri keselamatan





WA TAWALLANII FIIMAN TAWALLAIIT

Artinya : Dan peliharalah aku sebagaimana mereka yang telah Engkau pelihara




WA BAARIKLII FIIMAA A'THOIIT

Artinya : Dan berikanlah keberkahan pada sesuatu yang Engkau berikan padaku




WAQINII SYARROMAA QODLOIIT

Artinya : Dan jagalah aku dari kejahatan apa saja yang telah Engkau tetapkan





FAINNAKA TAQDHII WALAA YUQDLOO 'ALAIIK

Artinya : Karena sesungguhnya Engkaulah yang menghukumi dan tidak dihukumi




WAINNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIIT

Artinya : Dan sesunguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau tolong





WALAA YA'IZZU MAN 'AADAIIT

Artinya : Dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi





TABAAROKTA ROBBANAA WATA'AALAIIT

Artinya : Sesungguhnya Maha Agunglah Engkau dan Maha Luhurlah Engkau





FALAKAL HAMDU 'ALA MAA QODLOIIT

Artinya : Maka bagi Engkaulah segala pujian di atas apa yang Engkau hukumkan





WAASTAGHFIRUKA WAATUUBU ILAIIK

Artinya : Aku memohon ampun dari-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu



* Shalawat Nabi Muhammad SAW


WA SHOLLALLOOHU 'ALA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIYYI WA'ALAA AALIHI WASHOHBIHI  WASALLAM

Artinya : Dan semoga Allah tetap memberi rahmat pada Nabi Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya dengan kesejahteraan dan keselamatan.



رواه أبو داود والنسائى
(HR An-Nasa’i dan Abu Dawud)
Semoga bacaan Do'a Qunut ini bisa membantu Anda dalam menjalankan ibadah Sholat Subuh. Sholat adalah perkara utama yang akan dilihat oleh Allah SWT, siapapun baik dalam menjalankan sholat, InsyaAllah semuanya akan menjadi baik, seperti yang tertera jelas dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Ankabut ayat 45 :
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah SWT mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Semoga kita menjadi makhluk Allah yang menempati surga-Nya, menjadi manusia yang berakhlak mulia di dunia, serta bisa menjadi pribadi yang baik. Silahkan di baca dan di pahami ya Do'a Qunut-nya.
Read more...

Rabu, 04 September 2013

BERGURU DENGAN RASULULLAH SAW

0 komentar


Rasulullah bersabda “Barang siapa yang bermimpi melihatku, maka dia melihatku karena setan tidak akan bisa menyerupai diriku.” (HR Muslim 4206)

Alangkah miskinnya seorang murid jika gurunya hanya orang-orang hidup atau manusia biasa“.
Suatu saat Imam al-Gazali ditanya muridnya perihal banyaknya hadis ahad atau hadis tak populer yang dikutip dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din. Lalu, al-Ghazali menjawab, dirinya tak pernah mencantumkan sebuah hadis dalam Ihya’ tanpa mengonfirmasikan kebenarannya kepada Rasulullah.
Jika ada lebih dari 200 hadis dikutip di dalam kitab itu, berarti lebih 200 kali Imam al-Gazali berjumpa dengan Rasulullah. Padahal, Imam al-Ghazali hidup pada 450 H/1058 M hingga 505 H/1111 M, sedangkan Rasulullah wafat tahun 632 M. Berarti, masa hidup antara keduanya terpaut lima abad.
Kitab Ihya’ yang terdiri atas empat jilid itu ditulis di menara Masjid Damaskus, Suriah, yang sunyi dari hiruk pikuk manusia. Pengalaman lain, Ibnu ‘Arabi juga pernah ditanya muridnya tentang kitabnya, Fushush al-Hikam. Setiap kali sang murid membaca pasal yang sama dalam kitab itu selalu saja ada inspirasi baru.
Menurutnya, kitab Fushush bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Ibnu ‘Arabi menjawab, kitab itu termasuk judulnya dari Rasulullah yang diberikan melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Rasulullah mengatakan, “Khudz hadzal kitab, Fushush al-Hikam (ambil kitab ini, judulnya Fushush al-Hikam).”
Kitab Jami’ Karamat al-Auliya’ karangan Syekh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani, sebanyak dua jilid, mengulas sekitar 625 tokoh/ulama yang memiliki karamah, yaitu pengalaman luar biasa mulai dari Sahabat Nabi hingga tokoh abad ke-19.
Sayang, di dalamnya tidak dimasukkan sejumlah orang yang dapat dikategorikan sebagai wali yang berasal dari Indonesia. Seperti beberapa ulama yang tergabung di dalam Wali Songo. Dalam kitab ini, Subhanallah, ternyata pengalaman batin dan spiritual hamba Allah SWT berbeda-beda.
Umumnya mereka sudah berada di atas maqam yang lebih tinggi atau di atas rata-rata. Ternyata alam gaib bagi setiap orang tidak sama. Ada yang masih tebal dan ada yang sudah transparan (mukasyafah). Bagi mereka yang sudah berada di tingkat mukasyafah, sudah bisa berkomunikasi lintas alam.
Mereka seperti hidup di alam yang bebas dimensi, tidak lagi terikat dengan ruang dan waktu. Mereka bisa berkomunikasi interaktif dengan makhluk dan para penghuni alam lain, baik di alam malakut, alam jabarut, maupun alam barzakh lainnya. Sulit mengatakan apa yang diungkapkan dalam kitab Jami’ Karamat al-Auliya’ itu mitos atau bohong.
Sebab, Allah dalam sejumlah ayat ditambah hadis-hadis Rasulullah menekankan adanya kemungkinan hamba-hamba Tuhan yang memiliki kemampuan untuk mengakses apa yang disebut William C Chittick sebagai The Imaginal Worlds. Menurut istilah Imam al-Ghazali, itu disebut sebagai alam hayal atau alam mitsal, seperti istilah Ibnu ‘Arabi.
Dari sisi ini, muncul pernyataan bahwa alangkah miskinnya seorang murid jika gurunya hanya orang-orang hidup atau hanya manusia biasa. Bahkan, Chittick, pengagum Ibnu Arabi, menemukan bukti-bukti dalam kita Futuhat al-Makkiyah (4 jilid) karya Ibnu Arabi mengatakan, “The person with whom he met had lived many thousands of years before.” (Orang yang pernah dijumpai (Ibnu Arabi) hidup ribuan tahun silam).
Singkat cerita, Ibnu Arabi pernah menjumpai seseorang yang memperkenalkan diri telah hidup 40 tahun. Ibnu Arabi mengatakan, bagaimana mungkin, Nabi Adam saja belum hidup ketika itu. Lalu orang itu mengatakan, Adam yang mana, sambil mengingatkannya pada hadis Nabi Muhammad, “Innallaha lhalaqa miata alaf Adam” (Sesungguhnya Allah telah menciptakan 100.000 Adam). (Lihat Futuhat, jilid III, h. 459).
Orang-orang yang memiliki batin bersih setelah menempuh suluk, mujahadah, dan riyadhah, maka sangat berpeluang bisa menjalin komunikasi interaktif dengan para penghuni alam-alam lain. Termasuk kemampuan berkomunikasi atau belajar dari arwah para auliya’ dan arwah kekasih Tuhan lainnya.
Di dalam sebuah hadis disebutkan, “Seandainya bukan karena dosa yang menutupi kalbu Bani Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit.” (HR Ahmad dari Abi Hurairah). Sebaliknya, penghuni makhluk cerdas alam lain, yang diistilahkan dalam Alquran man fi al-sama’, juga bisa menyaksikan hamba-hamba kekasih Tuhan di bumi sebagaimana dinyatakan Rasulullah, “Sesungguhnya para penghuni langit mengenal penghuni bumi yang selalu mengingat dan berzikir kepada Allah bagaikan bintang yang bersinar di langit.”
Dalam Alquran dinyatakan dalam ayat, “Untuk mereka kabar gembira waktu mereka hidup di dunia dan di akhirat.” (QS Yunus/10:64). Para ulama tafsir mengomentari ayat ini sesuai dengan pengalaman sahabat Nabi Muhammad, Abu Darda’, yang menanyakan apa maksud ayat ini.
Rasulullah menjelaskan, “Yang dimaksud ayat ini ialah mimpi baik yang dilihat atau diperlihatkan Allah SWT kepadanya.” Dalam ayat lain lebih jelas lagi Allah berfirman, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.” (QS al-Zumar/39:42).
Dalam kita-kitab tafsir Isyari, ayat ini mendapatkan komentar panjang bahwa di waktu tidur orang bisa mendapatkan banyak pencerahan. Bahkan, dalam Alquran juga menunjukkan kepada kita sejumlah syariat dibangun di atas mimpi (al-manam), seperti perintah ibadah kurban (QS al-Shafat/37:102).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa berkomunikasi dan sekaligus belajar kepada para penghuni alam lain sangat dimungkinkan oleh orang-orang yang telah sampai kepada maqam tertentu. Namun, kita perlu hati-hati bahwa sehebat apa pun ilmu dan inspirasi yang diperoleh seseorang tetap tidak boleh menyetarakan diri dengan Nabi Muhammad sebagai khatamun nubuwwah.
Kehati-hatian lain ialah jangan sampai bisikan setan dianggap bisikan suci dari penghuni alam lain. Oleh karena itu, Imam al-Gazali pernah mewanti-wanti, jika ada orang menjalani suluk tanpa syekh atau mursyid, dikhawatirkan setan yang akan membimbingnya. Bagaimana berguru pada para penghuni alam lain, akan dibahas dalam artikel mendatang.  (Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 25 Februari 2011)
Bagaimana berguru kepada penghuni alam lain
Oleh:  Prof Dr Nasaruddin Umar Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Diantara mereka ber – tajassud kepadaku di bumi, yang lainnya ber – tajassud di udara.
Diantara mereka ber – tajassud di manapun aku berada, yang lainya ber – tajassud di langit.
Mereka mengajarku dan akupun mengajarinya. Namun keberadaanku tidak sama.
Aku tetap di dalam entitasku. Mereka tidak tetap dalam entitasnya.
Mereka menjelmakan diri dalam berbagai bentuk. Seperti air yang masuk di dalam cangkir yang berwarna”.
(Ibnu Arabi, Futuhat al-Makiyah, Juz 1 h 735).
Dalam artikel lalu digambarkan kemungkinan orang berguru kepada alam alam lain. Sebagaimana dilakukan orang-orang khusus yang berhasil menembus hijab atau menyingkap tabir yang juga diisyaratkan dalam Alquran dan hadis. Ternyata tidak sedikit orang berhasil mengakses dan berkomunikasi dengan penghuni alam spiritual itu. Ternyata tidak sedikit orang berhasil mengakses dan berkomunikasi dengan penghuni alam spiritual itu.
Contohnya, pengalaman batin Ibnu Arabi yang diungkapkan dalam bentuk syair seperti dikutip di atas. Masalahnya. di sini adalah mekanisme apa yang dilalui para Sufi yang berhasil menembus batas alam spiritual tersebut?. Sebelum membahas pertanyaan ini, terlebih dahulu kita perlu memahami apa yang dimaksud alam oleh para Sufi. Secara kebahasaan, alam berasal dari akar kata ‘alima-ya’lamu, berarti mengetahui. Dari akar kata ini terbentuk kata `alam yang artinya tanda, petunjuk, atau bendera; dan `alamah yang bermakna ala¬mat atau sesuatu yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya’lamu al-syai).
Dalam perspektif tasawuf, alam adalah segala sesuatu selain Allah SWT (ma siwa Allah).
Alam adalah tanda yang menunjuk kepada (adanya) Allah. Alam juga memberikan kesadaran dan pengetahuan. Alam meliputi seluruh universalitas (kulliyyat) alam dengan segenap bentuknya secara ijmali / undifferentiated.
Alam dalam form atau bentuk ini, pada ilmu filsafat dikenal dengan istilah al-’aql al-awwal / the first intellect. Dari sini, Allah sebagai al-Rahman dimanifestasikan.  Di sisi lain, alam mencakup pula hakikat seluruh partikularitas (juziyyat) secara tafshili l differentiated yang terkandung di dalam al-’aql al-awwal / the first intellect.
Dari sini, nama Allah sebagai al-Rahim dimanifestasikan. Pendapat ini juga banyak diakomodasi di dalam kitab-kitab tafsir, terutama dalam menjelaskan perbedaan konteks antara al-Rahman dan al¬Rahim dalam ayat pertama dan ketiga dari Sarah al-Fatihah: Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (al Rahman al-Rahim).
Orang yang menggabungkan kedua karakter alam di atas biasa disebut manusia paripurna (insan kamil), karena secara ijmal / undifferentiated menjadi bagian dalam martabat ruh, dan secara tafshil/ differentiated bagian dalam martabat qalb. Insan kamil menjadi sebuah alam universal yang merepresentasikan keseluruhan nama-nama Allah.
Ia sudah menjadi manifestasi (madzhar) nama-nama Allah. Pembahasan lebih rinci konsep insan kamil ini akan dilakukan dalam satu artikel tersendiri. Dalam perspektif tasawuf, alam tidak terbatas hanya dalam dua bentuk, yaitu dengan meminjam istilah Muhammad Abduh, ‘alam syahadah dan ‘alam ghaib, tapi alam bisa tak berbatas.
Sebab mencakup pula kehadiran Ilahiyah universal (al-hadharat al-kulliyyat / universal divine presences), yang di antaranya ada yang lebih dekat ke alam syahadah mutlak, dan lainnya lebih dekat ke alam gaib mutlak. Alam sering juga digunakan dalam dua konteks, yaitu alam secara keseluruhan (semua kecuali Allah) dan alam dalam konteks tingkatan alam, seperti ‘alam al-mulk, `alam al-mitsal, ‘alam al-malakut, dan alam jabarut.
Masing-masing alam ini mempunyai penghuni. Manusia bisa mengakses dan sekaligus menjadi bagian dari alam-alam tersebut bersama dengan makhluk-makhluk spiritual lainnya seperti malaikat dan jin. Hal itu dapat dilakukan tentu saja jika manusia itu mampu menyingkap tabir rahasia yang selama ini menghijab dirinya.
Manusia di alam fana ini berada di alam malakut dan dalam keadaan tertentu ia bisa mengalami transformasi spiritual ke alam alam lain. Tentu, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki atau diberikan kepadanya oleh Allah. Tingkatan-tingkatan alam lebih banyak digunakan dalam konteks kedua, yakni tingkatan alam spiritual.
Di setiap tingkatan alam, al Haq (Allah) selalu mengindikasikan kehadiranNya, sehingga tidak ada suatu ruang, waktu, dan dimensi yang bebas dari cakupan Al Haq meskipun dikenal berbagai tingkatan, pada hakikatnya tetap hanya satu kehadiran (al-hadharat), yakni kehadiran Ilahiyyah (al hadharat al-Ilahiyyah).
Secara sederhana, tingkatan alam yang akan menjadi objek pembahasan di sini ialah alam mulk, alam mitsal, alam malakut, dan alam jabarut.
Untuk berguru kepada para penghuni alam-alam tersebut, pengenalan mendalam mengenai alam-alam itu perlu dilakukan. Selain mengenal berbagai alam, manusia sepatutnya nya mengenal dirinya sendiri dulu secara mendalam. Setelah mengenal alam-alam spiritual dan rahasia besar yang ada di dalam diri manusia, langkah berikutnya berupa mendekatkan diri kepada Allah.
Diperlukan mursyid* untuk membimbing kita dan seorang yang mulai memasuki pencarian spiritual menempuh jalan khusus, itulah yang disebut murid atau salik.
Kemudian, para murid itu akan menjalani berbaga ritual (riyadhah) secara konsisteni sampai mereka menembus berbagai lapis alam dan menyingkap beragam hijab rahasia. Murid yang berhasil menembus batas dan menyingkap tabir disebut mukasyafah, yakni prestasi spiritual
Sumber : Republika, Dialog Jumat, 4 Maret 2011.
*/ Mursyid , suatu maqom/tingkat awal  yang berhasil dicapai orang-orang yang terpilih oleh Allah.

Mursyid adalah guru spiritual yang mewakili Nabi Muhammad SAW, yang beliau itulah (Nabi Shallallahu alaihi wasallam) yang mampu mengarahkan setiap manusia yang melakukan perjalanan spiritual sehingga tetap dalam jalan yang lurus yang diridloi Allah Subhanahu wa ta’ala).
Read more...