Sabtu, 23 Maret 2013

Asbabun Nuzul Al-Muzammil

2 komentar
Klik untuk memperbesar


1. Hai orang yang berselimut (Muhammad), 

2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari*, kecuali sedikit (daripadanya),

3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.

4. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

(Al-Muzammil: 1-4)

* Sholat malam ini mula-mula wajib, sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. setelah turunnya ayat ke 20 ini hukumnya menjadi sunat.



Klik untuk memperbesar

20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Muzammil: 20)




Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabarani dengan sanad yang lemah, yang bersumber dari Jabir bahwa ketika kaum Quraisy berkumpul di gedung Darun Nadwah, mereka berkata satu sama lainnya: “Mari kita carikan bagi Muhammad nama yang tepat dan cepat dikenal orang.” Mereka berkata: Kaahin (dukun). Yang lainnya menjawab: “Dia bukan dukun.” Yang lainnya berkata lagi: “Majnuun (orang gila).” Yang lainnya menjawab: “Dia bukan orang gila.” Mereka berkata lagi: “Saahir (tukang sihir)”. Yang lainnya menjawab: “Dia bukan tukang sihir.” Kejadian ini sampai kepada Nabi saw sehingga beliaupun menahan diri dengan berselimut dan berkerudung. Maka datanglah malaikat Jibril menyampaikan wahyu, yaa ayyuhal muzzammil (hai orang yang berselimut [Muhammad] (Al-Muzammil: 1) 
dan yaa ayyuhal muddatstsir (hai orang yang berkemul [berselimut]) (al-Muddatstsir: 1) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (Al-Muzammil: 1) turun saat Nabi saw sedang berselimut dengan selimut beludru.(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibrahim an-Nakho’i 


Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dllbahwa setelah turun ayat ini (Al-Muzammil: 1-4), yang memerintahkan agar kaum Muslimin bangun untuk melaksanakan shalat selama kurang lebih setengah malam pada tiap-tiap malam, para sahabat melaksanakannya dengan tekun. Kejadian ini berlangsung selama setahun sehingga menyebabkan kaki mereka bengkak-bengkak. Maka turunlah ayat berikutnya (Al-Muzammil: 20) yang memberikan keringanan untuk bangun malam dan mempersingkat bacaan. 

Read more...

Asbabun Nuzul Al-Muddatsir 1-5

0 komentar



Asbabun Nuzul
Dalam ash-Shahihain dan sirah nabawiyah diceritakan bahwa dalam masa fatrah wahyu, Rasulullah berada dalam kebimbangan dan bertanya-tanya tentang peristiwa dahsyat yang dialaminya di Gua Hira'. Beliau sendiri masih sering mendatangi gua tersebut dan melanjutkan kebiasaan tahannuts-nya.
Hingga, suatu saat, beliau berjalan di suatu tanah kosong di depan gua tersebut, dan sebuah suara memanggilnya. Beliau menengok ke kiri, mencari-cari siapa pemilik suara itu, namun tidak ada siapa pun. Beliau menengok ke kanan, dan kembali tidak ada siapapun yang terlihat disana. Suara yang memanggil nama beliau bergema kembali, dan kali ini beliau menengadahkan wajahnya ke langit. Seketika itu juga beliau jatuh berlutut, sangat terkejut, sehingga tubuhnya sampai ambruk ke tanah. Di lihatnya malaikat yang pernah mendatanginya di Gua Hira' tengah duduk di kursi, di antara langit dan bumi.
Dalam ketakutan yang sangat beliau bergegas kembali ke rumah. Badan beliau menggigil, panas dingin, seperti lazimnya seseorang yang menyaksikan sebuah peristiwa dahsyat yang mengguncang jiwa. Beliau meminta diselimuti dan disiram dengan air dingin. Saat itulah Allah mewahyukan, "ya ayyuhal muddatstsir …", dst.

Uraian al-Muddatsir 1-5
Menilik riwayat asbabun nuzul diatas, yang dimaksud dengan "berselimut" dalam ayat 1 adalah makna hakikinya, yakni menutupi badan dengan mantel atau selimut untuk menghangatkan diri. Dalam bahasa Arab, salah satu cara memanggil yang mengekspresikan kelembutan dan rasa sayang adalah memanggil seseorang menurut kondisi riil yang ada pada orang yang dipanggil tersebut. Disini, Rasulullah dipanggil dengan lembut, sesuai keadaan beliau yang sedang berselimut dan menggigil ketakutan.
Ketakutan yang dialami Rasulullah adalah sesuatu yang alamiah, tidak merusak kemuliaan beliau sebagai manusia pilihan Allah. Ini adalah ketakutan seorang manusia biasa yang untuk kedua kalinya menyaksikan makhluk yang sangat luar biasa (malaikat Jibril). Peristiwa dan reaksi serupa juga ditunjukkan oleh Musa 'alaihis salam, ketika untuk pertama kalinya diperintahkan oleh Allah melemparkan tongkatnya. Saat tongkat kayu yang telah bertahun-tahun beliau pakai itu berubah menjadi ular yang gesit, spontan beliau lari dengan tanpa menoleh (QS al-Qashash [28] : 31).
Kata qum berakar dari qawama atau qaama, yang artinya melaksanakan sesuatu secara sempurna. Perintah shalat di dalam al-Qur'an selalu dinyatakan dengan derivasi (bentuk turunan) dari kata dasar ini. Dalam al-Qur'an, seorang laki-laki (suami) disebut sebagai qawwam bagi para wanita (istri), yang maknanya adalah kewajiban untuk menegakkan urusan rumah tangganya secara sempurna, dalam segala aspeknya (QS an-Nisa' [03] : 34). Dalam ayat 2 surah al-Muddatsir ini, Rasulullah diperintahkan untuk bangkit memberi peringatan (indzar) secara sempurna, sebaik-baiknya. Makna dasar kata qum tersebut sudah cukup menjelaskan apa isi kandungan perintahnya.
Memberi peringatan (indzar), dalam penggunaan ayat-ayat al-Qur'an, biasanya dikaitkan dengan kedahsyatan peristiwa akhirat, khususnya masalah siksa yang pedih bagi mereka yang lalai. Hal ini didukung oleh riwayat sirah nabawiyah, bahwa berita pertama yang beliau ungkapkan kepada kaumnya, sesaat setelah turunnya perintah dakwah jahriyah, adalah peringatan tentang akhirat dan segala yang harus dipertanggungjawabkan oleh manusia di dalamnya.
Maka, secara pribadi, adalah penting bagi kita untuk senantiasa mempertebal keyakinan tentang akhirat. Dan, pintu pertama untuk memasukinya adalah kematian. Rasulullah sering menasihati kita untuk tidak melupakan kematian; agar tidak lalai dan lemah dalam beramal shalih; agar tidak berlarut-larut dalam dosa dan kemungkaran. Umat juga harus diberi keyakinan yang benar dan lurus tentang akhirat ini. Generasi salaf dari umat ini meraih ridha Allah dengan meyakini kebenaran akhirat, mewaspadai kematian, menyiapkan bekal lewat amal shalih, bertaubat, menjauhi dosa, dst. Tidak mungkin ada keikhlasan dan jihad jika umat tidak meyakini akhirat. Mendustakan akhirat, atau kelemahan akidah terhadap rukun iman ke-5 ini, akan membelokkan manusia ke jalan iblis, berupa dunia dan segala pesta-poranya. Na'udzu billah.
Ayat ini memberikan suatu pengarahan yang jelas, bahwa hanya Allah yang layak dibesarkan. Dengan kata lain, semua selain Allah tidak layak untuk diagung-agungkan. Kata rabb, sebagai maf'ul bih (obyek) dalam ayat ini didahulukan daripada fi'il (verba), yang mengandung pengertian bahwa hanya Dia saja yang berhak mendapatkan apa yang disebutkan dalam fi'il setelahnya. Bentuk serupa dapat ditemukan dalam surah al-Fatihah, iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in (hanya kepada-Mu kami mengabdi, hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan). Jika kita ikuti pola penerjemahannya, maka ayat 3 surah al-Muddatsir ini akan berbunyi, "dan hanya Rabb-mu yang harus engkau agungkan."
Membesarkan dan mengagungkan Allah tidak hanya menjadi sikap lahir, dalam bentuk ucapan dan perbuatan, namun juga merupakan sikap batin. Dalam praktik, misalnya jika harus ada perbenturan antara kehendak Allah (baca : syari'at) dengan kehendak selain-Nya, maka pasti kehendak-Nya jua yang harus dimenangkan dan didahulukan.
Secara lughawi, tsiyab adalah jama' dari tsaub, yang mempunai 7 makna majaz (kiasan) : hati, jiwa, usaha, badan, akhlaq, keluarga, dan istri. Sedang arti hakikinya adalah pakaian. Dalam al-Qur'an, kata ini tidak dipergunakan kecuali dalam makna hakiki, yakni pakaian yang menutupi badan secara fisik. Untuk pakaian dalam arti majaz, al-Qur'an memakai kata lain, yakni libas, yang berkenaan dengan ikatan suami-istri.
Dari sisi ini, membiarkan tsiyab dalam makna hakikinya justru memberikan keleluasaan untuk mencakup makna-makna majazi-nya. Pakaian, dalam banyak budaya di dunia, adalah simbol jiwa dan kehormatan. Para bangsawan menampakkan diri dengan memakai pakaian yang mencirikan kedudukan mereka di tengah-tengah kaumnya. Imam Abu Hanifah menganjurkan para ulama' memperhatikan pakaian yang dikenakannya sedemikian rupa, agar ilmu dan ulama' tidak diremehkan. Rasulullah sendiri sangat gemar mengenakan pakaian yang putih bersih. Dan, bagi kita, anjuran ayat ini sangat jelas, bahwa penting untuk menjaga tsiyab kita, baik dalam pengertian hakiki maupun majaz.
Jika dalam ayat 3 ditekankan pembenahan sikap batin (wa rabbaka fa kabbir), maka dalam ayat 4 ini ada perhatian khusus dari aspek lahiriah (wa tsiyabaka fa thahhir). Penampilan yang baik adalah bagian dari dakwah. Rasulullah memang sangat tidak menyukai kemewahan, apalagi gaya berdandan yang mencerminkan kesombongan dan riya'. Namun, beliau membenci orang yang tidak mengurus dirinya, sehingga berbau dan rambutnya kusut-masai. Menurut 'Aisyah, hal pertama yang dilakukan Rasulullah saat memasuki rumah adalah bersiwak (membersihkan gigi). Beliau juga melarang siapa saja memasuki masjid jika ia baru makan bawang. Beliau juga memerintahkan para Sahabat untuk mandi keramas, bercukur, mengenakan wewangian, memilih pakaian terbaik, pada saat hendak menunaikan shalat Jum'at atau dua hari raya.
Sebagian qira'at membaca ar-rujza dengan ra' di-kasrah, yaitu ar-rijza. Kata pertama berarti berhala, sedang yang kedua artinya dosa. Lebih jauh, ada yang mengganti za' dalam kata ini dengan sin, sehingga berbunyi ar-rijsa. Kata-kata ini juga memiliki makna siksa. Dengan demikian, lengkaplah pengertian kata ini : dosa, berhala, siksa.
Sebagian kata dalam bahasa Arab yang memakai sin memang bisa diganti za', bahkan shad. Misalnya, kata shiraath (dengan shad) dalam surah al-Fatihah bisa dibaca ziraath (dengan za') atau siraath (dengan sin). Maknanya tidak berbeda.
Sebelum memahami makna ayat ini, kita harus meneliti apa arti fahjur. Akar kata ini adalah hajara, yang berarti berpaling, menjauh, tidak mengajak bicara, dan menyingkir. Ada indikasi kebencian dan ketidaksukaan di dalamnya. Hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para Sahabat adalah tindakan yang dilandasi perasaan benci dan tidak suka kepada kezhaliman maupun kemusyrikan yang mereka dapati di Makkah.
Jadi, ayat ini memberikan sebuah pesan yang tegas kepada kita : tinggalkan, jauhi, berpalinglah, menyingkirlah dari segala bentuk dosa, berhala dan perbuatan yang mendatangkan siksa Allah, karena kebencian dan kesadaran akan hakikatnya. Ini terkait erat dengan akidah al-wala' wal bara' (loyalitas dan anti-loyalitas). Mencintai atau membenci sesuatu hanya karena Allah, yakni karena kita mengetahui bahwa Allah tidak menyukai dan melarang kita mendekatinya.
Wallahu 'alam bish-shawab.
Read more...

Jumat, 22 Maret 2013

Asbabun Nuzul Al-Alaq ayat 1-5

0 komentar


Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahkan Nabi SAW. datang ke gua Hira' suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di pinggir kota Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya; sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca". Lalu. dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surah Al `Alaq yang artinya :
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah!.
dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lalu Nabi SAW. dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan mengatakan: "Selimutilah aku! Selimutilah aku!". Nabi terus diselimuti sehingga hilanglah kegelisahannya. Lalu beliau menceritakan kepada Khadijah apa yang terjadi dan beliau menambahkan: "Aku sangat khawatir apa yang akan terjadi atas diriku" Khadijah berkata: "Tak usah khawatir; malah seharusnya engkau gembira; demi Allah, sekali-kali Tuhan tidak akan menyusahkanmu. Engkau menghubungkan silaturrahmi, berbicara benar. membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan penderita".
Kemudian Khadijah membawa Nabi SAW. menemui Waraqah bin Naufal (anak paman Khadijah). Waraqah bin Naufal adalah seorang beragama Nasrani. Ia banyak menulis buku yang berbahasa Arab dan bahasa Ibrani yang berasal dari Injil. Ia adalah seorang tua lagi buta.
Khadijah berkata kepadanya: "Wahai anak pamanku, dengarlah cerita dari anak saudaramu ini!". Lalu Waraqah bertanya: "Apakah yang ingin engkau ketahui wahai anak saudaraku?". Lalu Nabi SAW. menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi di gua Hira'. Kemudian Waraqah berkata: "Itu adalah Jibril yang pernah datang menemui Isa A.S.; sekiranya saya ini seorang pemuda yang tangkas dan kiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu", maka Nabi bertanya: "Apakah mereka akan mengusir aku?". Jawab Waraqah: "Ya! hanya sedikit yang mengemban apa yang engkau bawa ini dan banyak yang memusuhinya, maka jika aku masih kuat hidup di waktu itu pasti aku akan membantumu sekuat-kuatnya". Tidak lama sesudah itu Waraqahpun meninggal dunia. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis tersebut jelaslah bahwa lima ayat pertama surah Al `Alaq ini adalah ayat-ayat Alquran yang pertama kali diturunkan sebagai rahmat dan panggilan Allah yang pertama kali yang dihadapkan kepada Nabi SAW.
Adapun ayat-ayat lainnya diturunkan sesudah tersiarnya berita kerasulan Nabi SAW. dan sesudah Nabi mulai mengajak orang-rang beriman kepadanya. Ajakan Nabi ini pada mulanya disambut oleh sebahagian kecil orang-orang Quraisy, sedang kebanyakan mereka mengejek-ejek orang yang telah beriman dan berusaha agar jangan beriman kepada agama yang di bawa Muhammad dari Tuhannya.
Allah menyuruh Nabi agar membaca sedang beliau tidak pandai membaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau dapat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia.
Maksudnya, bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan seluruh makhluk Nya dari tidak ada kepada ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa belajar.
Read more...

Selasa, 12 Maret 2013

Sejarah Nasyid

0 komentar

Sejarah Nasyid

Nasyid merupakan salah satu seni Islami dam bidang tarik suara dan nyanyiannya disebut lagu nasyid. Lagu nasyid umumnya dinyanyikan dengan nuansa Islam dan lirik-liriknya mengandung nasihat, memuji Allah, kisah para nabi, dan lain-lain yang berkaitan dengan syiar Islam. 

Nasyid ini biasanya dinyanyikan dengan bentuk acappela dan hanya diiringi oleh alat musik gendang. Iringan lagu nasyid dengan gendang dilatarbelakangi oleh dilarangnya menggunaan alat musik selain alat musik perkusi oleh sebagian ulama Islam.

Kata Nasyid (Arab: أناشيد) merupakan senandung. Setelah itu, kata nasyid maknanya mengalami penyempitan yang awalnya bermakna senandung secara umum berubah menjadi senandung bernuansa Islami. Seni musik Islam ini dayakini telah ada dan berkembang sejak zaman Rasulullah.

Syair yang hingga kini cukup terkenal dan sering disenandungkan oleh majelis ta’lim serata tim qosidahan, yaitu thola’a badru ‘alaina (artinya sudah muncul rembulan di tengah-tengah kami), merupakan lagu yang disenandungkan umat Islam ketika menyambut kehadiran Nabi Muhammad Saw. Lagu ini dinyanyikan untuk menyambut Rasulullah yang untuk pertam kalinya hijrah ke Kota Madinah.

Setelah itu, lagu nasyid mengalami perkembangan bersamaan dengan berkembangnya situasi dan keadaan pada masa itu. Misalnya seperti nasyid yang berkembang di kawasan Timur Tengah. Nasyid di sini umumnya bertemakan pesan jihad dan mengumandangkan perlawanan melawan imperialism Israel. Tema-tema ini wajar muncul di sana karena memang keadaan politik di Timur Tengah sedang goyah.

Orang yang bersenandung dalam aliran nasyid disebut munsyid yang artinya yaitu orang yang menyanyikan atau membacakan syair. Nasyid itu bukan berarti hanya sekadar lantunan lagu, tetapi juga mempunyai nilai spiritual sangat tinggi, baik dari sudut pandang syairnya ataupun munsyid-nya. Intinya, lirik dalam musik nasyid harus mengandung nilai rohani atau nilai islami yang sangat kental dan kuat.

Nasyid bisa dibawakan dalam beragam gaya atau style, seperti nasyid dengan style acapella dengan irama pop, nasyid yang dibawakan dengan iringan perkusi yang umumnya berisi puji-pujian, dan ada juga nasyid yang dinyanyikan dengan alat musik lengkap.

Di Indonesia, nasyid biasa dibawakan dengan style acapella atau hanya diiringi dengan alat musik berupa gendang. Saat ini, telah banyak bermunculan grup vokal nasyid Indonesia seperti Snada, Bijak, Sam Abdullah, Harmoni Voice, Suara Persaudaraan, Izatul Islam, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Lalu, bagaimana sejarah nasyid di Indonesia? Berikut pembahasannya.


Sejarah Lagu Nasyid di Indonesia

Musik nasyid mulai datang ke Indonesia pada 1980-an yang saat itu hanya dinyanyikan pada forum-forum tertentu oleh sejumlah aktivis muslim di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Nasyid adalah sebuah sarana bagi para aktivis muslim untuk meningkatkan semangat dalam kelompoknya. Nsayid ini berisi syair yang bertemakan perjuangan yang menggelora di jalan Allah Swt atau fisabilillah.

Saat memasuki masa 1990-an, musik nasyid mulai dikenal luas oleh masyarakat dengan syair-syairnya yang mengandung pesan, pujian kepada Allah, dan kisah-kisah para nabi. Perkembangan musik berlairan nasyid di Indonesia ini ternyata memunculkan banyak grup vokal, misalnya Snada, Senandung Nasyid, Qatrunada, dan lain-lain. Walaupun lirik-lirik lagunya bersifat religious, tetpai dinyanyikan dengan gaya musik pop sehingga menjadikan nasyid semakin populer.

Saat memasuki bulan Ramadhan pada 2005, music beraliran nasyid makin populer di Indonesia. Bahkan, sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta mengadakan sebuah festival bernama Festival Nasyid Indonesia serta FestivaL Nasyid, Tausyah, dan Qiroah (NTQ), mirip seperti acara Indonesian Idol atau Akademi Fantasi yang saat itu sedang marak di kalangan masyarakat Indonesia. Namun sayang, peserta festival ini masih dipenuhi oleh pria dan tidak ada satu pun peserta dari kaum hawa.


Lagu Nasyid Itu Musik Islam?

Di dalam hukum Islam, sejumlah ulama memiliki perbedaan pendapat seputar hukum musik. Pihak yang melarang atau mengharamkan alat musik adalah ulama Muta’akhirin, sedangkan yang memperbolehkan atau menghalalkan alat musik adalah ulama Salaf dari golongan sahabat dan tabi’in.

Menurut kalangan mereka, tak ditemukan dalil dalam Al-quran and hadis yang dengan jelas mengharamkan alat musik. Disebabkan munculnya dua pendangan inilah, pada ulama telah sepakat untuk mengembalikan hukum bermusik pada hukum asalnya, yaitu mubah. 


Lagu Nasyid dan Perempuan

Kehadiran kaum hawa di kancah musik nasyid tidaklah menjamur seperti grup nasyid pria pada umumnya. Walaupun begitu, pada 1990-an, sekelompok wanita muslimah meramaikan musik nasyid dengan membentuk kelompok nasyid bernama Bestari. Asma Nadia, seorang penulis terkenal, adalah salah satu personel dari Bestari. Bestari pada waktu itu sudah berhasil mengeluarkan dua album, yaitu Bestari I dan Bestari II.

Kemunculan kelompok nasyid perempuan ini sempat menciptakan kontroversi di masyarakat. Protes pun bermunculan tidak hanya dari tokoh agama, tetapi juga dari para muslimah sendiri yang juga menolak kehadiran Bestari. Penolakan ini dilatarbelakangi karena ada yang menganggap suara wanita itu aurat. Sebagia umat Islam masih menganggap suara wanita itu haram hukumnya jika diperdengarkan di depan umum karena merupakan aurat.

Semoga musik bisa terus melebarkan sayap dan semakin diterima luas di masyarakat. Tapi, hal yang paling penting adalah para munsyid-nya mampu menjadi contoh dan teladan sehingga apa yang didakwahkan dalam musik tersebut dapat diikuti oleh para pecinta lagu nasyid.


Sejarah Lagu Nasyid

Lagu nasyid masuk ke Indonesia pada pertengahan 1980-an dan mulai berkembang di lingkungan kampus. Nasyid adalah salah satu seni musik bernuansa Islami. Sebenarnya, nasyid sudah ada sejak masa awal Islam, tetapi nama nasyid sendiri waktu itu belum dikenal.

Bersyair atau bermusik lahir jauh sebelum agama Islam dibawa oleh Rasulullah. Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki berbagai macam jenis lagu, seperti nyanyian pengantar tidur, hymne, senandung, dan lain-lain. Seiring berkembangnya agama Islam, terciptalah satu jenis nyanyian yang menambah kekayaan khazanah Islamiyah. Rasulullah pada waktu itu tidak melarang syair-syair yang berembang di kalangan para sahabat.

Thala’al Badru ‘Alaina adalah nyanyian tertua dalam Islam. Nyanyian ini dinyanyikan oleh beberapa orang dengan iringan rebana untuk menyambut datangnya Rasulullah yang hijrah dari Makkah ke Madinah (1430 tahun yang lalu). Inilah permulaan berkembangnya syair dan lagu Islami.

Nyanyian Islami berkembang seiring meluasnya agama Islam. Pada zaman Dinasti Turki, berkembang satu irama bernama Zapin (gabungan antara irama Turki Arabia dan Spanyol). Zapin berkembang dari belahan dunia barat sampai ke belahan timur di negara-negara Asia Tenggara.

Di beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand, Singapura, Malaysia, dan Brunei, nama jenis irama musik ini tidak berubah. Sementara itu, di Filipina dan Maluku musik ini disebut dhana-dhana. Lagu dan syair berirama Zapin yang pernah terkenal di nusantara adalah sebagai berikut.
  • Lancang Kuning 
  • Laksamana Hang Tuah 
  • Laksamana Raja di Laut 
  • Bunga Melur
Ada juga jenis irama dan lagu Islami lainnya selain Zapin, seperti hadhrah,marawis, dan lain-lain. 


Nasyid di Indonesia

Saat ini, lagu nasyid yang dikenal di Asia Tenggara sebenarnya bukan jenis musik baru dalam Islam. Pada awal kemerdekaan, jenis lagu ini sudah dinyanyikan di beberapa daerah di Indonesia dengan nama yang berbeda-beda. Masyarakat Betawi menyebutnya denngan Orkes Gambus, di Sumatera Utara dikenal dengan Irama Padang Pasir, dan
di Jawa disebut Qasidahan.

Di Sumatera Utara pada 1960-an, Hj. Nur Aisyah Djamil membentuk grup qasidah bernama Nasyid. Nama grup qasidah ini berasal dari singkatan nama pemimpinnya, yaitu Nur Aisyah Djamil. Inilah awal mula dikenalnya nasyid di Indonesia. Alat musik yang dipakai dalam nasyid tidak ada yang bernada dan hanya terdiri dari gendang dan rebana. Sementara itu, ada juga yang berpendapat bahwa nasyid berasal dari kata nasyd, yang artinya hymne.

Pada 1980-an, Nasyidaria, sebuah grup qasidah populer di Jakarta, mulai menghiasi layar televisi. Grup qasidah ini memakai alat-alat nusik modern, seperti gitar, organ, dan lain-lain. Beberapa tahun kemudian, Jamaah Al-Arqam hadir dengan lagu-lagu nasyid diiringi alat musik tanpa nada, bahkan sebagian lagunya dinyanyikan tanpa alat musik. Di Asia tenggara, Al-Arqam sempat membahana. Lagu-lagu mereka yang cukup terkenal adalah Asmaul Husna, Sunnahnya Orang Berjuang, dan Di Pondok Kecil.

Lagu-lagu nasyid kembali membahana pada 2000-an. Hal yang paling menonjol dari lagu nasyid zaman ini adalah unsur syariat Islam. Selain itu, para penyanyinya didominasi kaum pria. Pada era sebelumnya, para penyanyi nasyid didominasi kaum wanita. Alat musik yang digunakan saat ini adalah alat musik tanpa nada. Bahkan, sekarang muncul teknik acapella yang digarap dengan baik.

semoga saja team nasyid sekarang ga merubah visi dan misi dari nasyid yaitu sebagai kesenian islam dan untuk berdakwah...
Read more...

Senin, 04 Maret 2013

Laa Tusrifuu! Jangan Berlebih-lebihan! Jangan Lebay!

0 komentar

Jangan lebay? Memang apa itu lebay? 
Secara sederhana pengertian atau arti kata lebay adalah “berlebihan”. 
Benarkah Allah membenci berlebihan? Banyak ayat Al Quran maupun hadits yang menjelaskan hal ini, salah satunya: 


Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raaf:31) 

Sudah percaya? Ya, lebay atau belebih-lebihan tidak disukai oleh Allah. Kalau sudah tidak disukai oleh Allah, itu kerugian besar, karena kita hanya beribadah dan meminta kepada Allah. Bagaimana jika ibadah tidak diterima? Bagaimana jika permintaan kita tidak dikabulkan oleh Allah. Makanya, jangan lebay! 


Jangan Lebay Pada Bidang Apa Saja? 

Jika kita membaca ayat-ayat dan hadits tentang larangan berlebihan, kita bisa melihat bahwa larangan ini untuk semua bidang. Contoh pada ayat diatas adalah pada pakaian, makanan, dan minuman. Banyak ayat yang menjelaskan bahwa Allah tidak menyukai sikap berlebihan secara general. 

Jangan Lebay Dalam Cinta 

Salah satu fenomena di dunia remaja adalah lebay dalam persoalan cinta. Semua tindakan dan pikiran hanya fokus pada cinta lawan jenis. Update status, tentang cinta. Ngerumpi sama temannya, tentang cinta. Tidak ada yang lepas dalam pikirannya kecuali cinta lawan jenis. 

Padahal, masih banyak hal lain, yang lebih besar dan penting untuk dipikirkan. Tentang studi dan karir di masa depan, ini lebih penting untuk dipikirkan dan disiapkan. Yang terpenting, bahkan ini sering dilupakan ialah tentang masa depannya di akhirat. Mereka berlebihan untuk urusan cinta terhadap lawan jenis, namun melupakan cintanya kepada Allah dan cinta Allah kepada mereka. 

Banyak kasus, demi cintanya kepada lawan jenis, dia tidak memperdulikan masa depannya di akhirat dengan melakukan tindakan yang jelas-jelas dilarang, yaitu berzina dan bunuh diri. Termasuk durhaka kepada orang tua. Semuanya dilakukan demi cinta yang tidak pada semestinya. 

Bukankah cinta itu fitrah? Bukankah manusia itu berjodoh? 

Ya tentu saja. Allah menanamkan rasa cinta kepada manusia, cinta itu fitrah dan cinta itu anugrah. Yang perlu diperhatikan disini, bukan berarti kita tidak boleh mencintai, tetapi jangan lebay dalam cinta. Cintailah sewajarnya, termasuk bencilah sewajarnya. 

Rasulullah Saw, bersabda, Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu. (HR. Al-Tirmidzi). 

Persiapkanlah Masa Depanmu 

Selain cinta, kita pun jangan lebay untuk berbagai hal lainnya. Dibawah ini, fenomena yang sering terjadi dan yang termasuk berlebihan: 
  • Asik dengan internet seperti facebook, twitter, chatting, dan nonton youtube. Internet adalah teknologi dan memberikan manfaat, tetapi jika kita berlebihan, malah akan membawa dampak buruk bagi kita. Jangan sampai kita terjebak, menghabiskan waktu kita yang berharga untuk HANYA berinternet ria. 
  • Lebay dalam berpakaian. Yang dimaksud lebay dalam perpakaian ialah yang memakai sesuatu yang tidak pada semestinya, membuka bagian tubuh berlebihan. Tetapi seorang muslimah yang menutup semua auratnya bukanlah lebay, justru yang lebay ialah yang membuka aurat yang berlebihan. Anda hanya boleh membuka aurat di depan pasangan (suami istri), muhrim, dan saat tidak ada orang lain, diluar itu artinya lebay. 
  • Lebay dalam perkataan. “Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasululloh bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Mutafaqun ‘alih). Perkataan yang baik adalah perkataan bernilai ibadah, dakwah, dan membawa kebaikan baik bagi yang bicara maupun yang mendengarkan. Jangan lebay, hanya membicarakan artis, lawan jenis, film, dan berbagai hal yang kurang bermanfaat lainnya. 
  • Jangan lebay dalam mencari dan mengumpulkan harta. Mencari rezeki adalah kewajiban, namun jangan sampai terjebak sampai kita melupakan ibadah lainnya mulai dari shalat sampai kewajiban untuk dakwah dan jihad. Mencari rezeki harus, tapi jangan lebay. Ada hal lain yang tidak kalah pentinya, yaitu Allah dan keluargamu. 
  • dan lain-lain. 

Intinya adalah, kita jangan lebay dengan apa yang kita rasakan, pikirkan, dan lakukan saat ini karena kita harus mempikirkan masa depan kita, yang jauh lebih penting. Baik itu masa depan di dunia dan di akhirat. 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Hasyr:18) 


Adakah Berlebihan dalam Ibadah? 

Tentu saja ada. Yang dimaksud berlebihan dalam ibadah ialah: 

Pertama: menambah-nambah ibadah tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Ini yang disebutkan dengan bid’ah. 

Kedua: menjalankan ibadah tidak seimbang, misalnya terus puasa, tidak menikah, terus shalat, padahal masih ada ibadah-ibadah lainnya. Coba simak hadits dibawah ini: 

“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mereka diberitahu, seakan-akan mereka menganggap ibadah Nabi hanya sedikit, dan mereka berkata, ‘Di manakah tempat kami dibandingkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang’. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Saya selamanya shalat sepanjang malam’. Yang lain berkata, ‘Saya selamanya berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah berbuka’. Yang lain lagi berkata, ‘Saya menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan kawin selama-lamanya’. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan berkata kepada mereka, ‘Kaliankah yang tadi berkata demikian dan demikian? Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian, tetapi saya berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur malam, dan saya juga menikah dengan perempuan. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku’.” (Muttafaq ‘alaih) 

Namun, tidak ada kata lebay dalam ibadah secara umum. Jika seseorang mengisi seluruh hidupnya dengan ibadah (sesuai dengan tuntunan dan seimbang), maka itu bukanlah lebay, memang seperti itu seharusnya karena manusia diciptakan memang untuk beribadah. 

wallahu a'lam bishowab
Read more...