Tampilkan postingan dengan label Ulumul Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulumul Quran. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2013

Hikmah Nuzulul Qur'an

0 komentar


Hikmah Nuzulul Qur'an - Dalam pembahasan Nuzulul Qur'an menurut Berbagai Madzab kita telah mengetahui bahwa Al-Qur'an diturunkan ke Baitul Izzahsecara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al-Qur'an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. 

Nuzulul Qur'an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada tanggal pertama kali Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah SAW di gua Hira. Jika sebagian besar umat Islam di Indonesia meyakini 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzulul Qur'an, Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury menyimpulkan Nuzulul Qur'an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan. 

Lepas dari berapa tanggal sebenarnya, Nuzulul Qur'an dalam arti turunnya Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW secara bertahap atau berangsur-angsur itu memiliki beberapa hikmah sebagai berikut: 

1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat 
Dakwah Rasulullah pada era makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu menguatkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu. 

Ketika kekejaman Quraisy semakin menjadi, Al-Qur'an menyuruh mereka bersabar seraya menceritakan kisah para nabi sebelumnya yang pada akhirnya memperoleh kemenangan dakwah. Maka, seperti yang dijelaskan Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Rakhiqul Makhtum, Al-Qur'an menjadi faktor peneguh mengapa kaum muslimin sangat kuat menghadapi cobaan dan tribulasi dakwah dalam periode Makkiyah. 

Di era madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al-Qur'an turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama. 

2. Tantangan dan Mukjizat 
Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin. Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong Allah dengan jawaban langsung dari-Nya melalui wahyu yang turun. 

Selain itu, Al-Qur'an juga menantang langsung orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur'an. Nyanta, walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, tidak seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al-Qur'an yang tak tertandingi oleh siapapun. 

3. Memudahkan Hafalan dan Pemahamannya 
Dengan turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih mudah menghafalkan dan memahaminya. Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman para sahabat. 

4. Relevan dengan Pentahapan Hukum dan Aplikasinya 
Sayyid Quthb menyebut para sahabat dengan "Jailul Qur'anil farid" (generasi qur'ani yang unik). Diantara hal yang membedakan mereka dari generasi lainnya adalah sikap mereka terhadap Al-Qur'an. Begitu ayat turun dan memerintahkan sesuatu, mereka langsung mengerjakannya. Interaksi mereka dengan Al-Qur'an bagaikan para prajurit yang mendengar intruksi komandannya; langsung dikerjakan segera. 

Diantara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al-Qur'an adalah karena Al-Qur'an turun secara bertahap. Perubahan terhadap kebiasaan atau budaya yang mengakar di masyarakat Arab pun dilakukan melalui pentahapan hukum yang memungkinkan dilakukan karena turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur ini. Misalnya khamr. Ia tidak langsung diharamkan secara mutlak, tetapi melalui pentahapan. Pertama, Al-Qur'an menyebut mudharatnya lebih besar dari manfaatnya (QS. 2 : 219). Kedua, Al-Qur'an melarang orang yang mabuk karena khamr dari shalat (QS. 4 : 43). Dan yang ketiga baru diharamkan secara tegas (QS. 5 : 90-91). 

5. Menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji 
Ketika Al-Qur'an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. 

Demikianlah, sebagian hikmah Nuzulul Qur'an, diturunkannya Al-Qur'an secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. Wallahu a'lam bish shawab. [Muchlisin. Maraji: : مابحث في علوم القران karya Syaikh Manna Al-Qaththan, رحيق المختوم karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, dan معالم في الطريق karya Sayyid Quthb]
Read more...

Ramadhan dan Nuzulul Qur'an

0 komentar



Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia bila dibandingkan dengan bulan yang lain. Karena di dalam bulan Ramadhan ada Lailatul Qadar, segala dosa umat manusia diampuni dan segala amal perbuatan kebaikandilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt. dan di dalam bulan Ramadlan al-Qur’an pertama kali di turunkan.Peristiwa tersebut tidak pernah ada pada selain bulan Ramadhan. Selain kitab al-Qur’an Allah juga menurunkan kitab-kitab samawi yang lain seperti kitab Taurot, Zabur dan Injil. Hanya saja hukum syariat Islam yang tertuang di dalam masing-masing kitab tersebut satu sama lain tidak sama tetapi dalam masalah ketauhidan (ketuhanan) semua kitab sama yakni sama-sama mengajarkan kepada umat manusia agar menyembah dan meng-Esa-kan Allah SWT.
Al-Qur’an adalah mukjizat nabi Muhammad Saw yang paling agung bila dibandingkan dengan Mukjizat-mukjizat yang lain yang dimiliki oleh beliau Nabi dan atau bila dibanding dengan mukjizat-mukjizat lain yang dimiliki oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Adalah wajar jika sampai saat ini bahkan sampai hari kiamat nanti keaslian al-Qur’an masih tetap terjaga. Karena mustahil tidak ada satu orangpun di dunia ini yang dapat memalsukan/merubah ayat-ayat al-Qur’an apalagi mampu menyaingi keindahan kalam-kalam al-Qur’an. Seorang orientalis Barat yang bernama H.A.R Gibb pernah mengatakan bahwa “ Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini yang telah memainkan alat bernada nyaring yang sedemikian nyaring dan indah serta sedemikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang di baca Muhammad (al-Qur’an)”. Itulah barangkali salah satu bukti keagungan al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw. 14 abad yang silam. al-Qur’an memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh mukjizat yang lain yang hanya bisa dinikmati dan disaksikan pada zamannya saja. Sejak pertama kali diturunkan al-Qur’an telah mampu merubah arah dan paradigma peradaban ummat manusia dari kesesatan menuju kebenaran dan kebahagian dunia maupun akhirat. Hal ini merupakan salah satu pengaruh ajaran dan ilmu pengetahuan yang terkandung dalam al-Qur’an.
Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar tanggal, 17 Ramadhan tepatnya saat beliau Nabi Muhammad Saw berusia 40 tahun. al-Qur’an diturunkan ke bumi tidak sama dengan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan hanya satu kali langsung selesai. Tetapi al-Qur’an diturunkan dengan cara berangsur-angsur atau sedikit demi sedikit (bertahap) sesuai dengan kebutuhan atau sesuai dengan permasalah yang terjadi saat itu untuk memberikan jawaban atas permasalah yang dihadapi para Sahabat nabi kala itu.
Al-Qur’an diturunkan (Nuzulul Qur’an) membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Apa hikmahnya? Adalah untuk menguatkan rasa cinta hati nabi Muhammad dan para sahabat nabi agar selalu merasa senang setiap kali turunnya ayat al-Qur’an. Disamping itu, al-Qur’an diturunkan dengan cara berangsur-angsur agar supaya para sahabat lebih mudah menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an yang telah diturunkan lebih dahulu.
al-Qur’an diturunkan ada kalanya yang mempunyai sebab (Asbab an-Nuzul) seperti ayat al-Qur’an yang diturunkan untuk menjawab sebuah pertanyaan dari permasalah yang dihadapi para sahabat Nabi kala itu,ataupun pertanyaan yang disampaikan oleh orang-orang kafir. Namun ada juga ayat al-Qur’an yang diturunkan tetapi tidak mempunyai Asbab an-Nuzul seperti ayat al-Qur’an yang diturunkan untuk menceritakan umat-umat Nabi terdahulu atau menjelaskan tentang perkara-perkara gaib yang akan terjadi di hari nanti. Seperti ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang surga atau neraka, ataupun ayat al-Qur’an yang menggambarkan tentang kejadian hari kiamat nanti, ayat-ayat al-Qur’an yang seperti itu diturunkan tidak mempunyai \Asbab an-Nuzul.Ayat al-Qur’an seperti itu, diturunkan oleh Allah dimaksudkan untuk memberikan hidayah kepada umatmanusia agar mau mengambil hikmah dari semua kejadian yang diceritakan oleh al-Qur’an terutama ayat al-Qur’an yang menceritakan tentang adzab, musibah dan bencana dari Allah yang diturunkan kepada ummat-ummat terdahulu yang merupakan akibat dari perbuatan dosa yang telah mereka lakukan. Sehingga kita semua mau kembali ke jalan yang benar yang diridhoi oleh Allah Swt untuk tidak melakukan dosa dan maksiat kepada Allah Swt.
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt. sebanyak 30 juz, 114 surah, 6.236 ayat. Isi kandungannya dibagi menjadi tiga bagian. Sebagian dari isi al-Qur’an menjelaskan tentang sifat wajib Allah. Sebagian yang lain isi kandungan al-Qur’an menjelaskan tentang hukum-hukum syariat Islam dan sebagian diantaranya menceritakan tentang kejadian dan perilaku umat nabi terdahulu baik umat yang beriman kepada Allah ataupun umat yang inkar kepada-Nya.
Ada sebuah pertanyaan yang sangat sederhana. al-Qur’an adalah kalamullah (Firman Allah), Kalamullah secara tinjauan ilmu tauhid adalah sesuatu yang tidak ada huruf dan tidak ada suaranya, ( Maa laisa biharfin walaa sautin ) tapi kenapa al-Qur’an yang merupakan kalamullah ternyata ada huruf dan ada suaranya bila dibaca? Dalam sebuah keterangan dijelaskan bahwa kalamullah terbagi menjadi 2 (dua) bagian:
1. Ada kalamullah sebangsa sifat yang maha terdahulu yang melekat pada dzatnya Allah. Kalamullah seperti itu yang tidak ada huruf dan suaranya;
2. Ada Kalamullah sebangsa lafadz yang diturunkan kepada para Nabi/Rasul, Kalamullah yang seperti ini yang ada huruf dan suaranya. Seperti al-Qur’an, Taurot, Injil dan Zabur.
Untuk itu, dengan momentum bulan Ramadlan ini mari kita sama-sama untuk membudayakan agar rumah, kantor, masjid/mushola dan sekolahkita selalu dihiasi dengan bacaan al-Qur’an. Jadikan generasi muda kita generasi yang cinta al-Qur’an, jadikan hidup kita agar selalu berpegang teguh dengan ajaran al-Qur’an. Insya Allah semakin sering kita membaca dan mengamalkan perintah al-Qur’an semakin besar harapan kita untuk mendapatkan syafa’at dari al-Qur’an di hari Kiamat nanti. Amiin.
Read more...

Sabtu, 23 Maret 2013

Asbabun Nuzul Al-Muzammil

2 komentar
Klik untuk memperbesar


1. Hai orang yang berselimut (Muhammad), 

2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari*, kecuali sedikit (daripadanya),

3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.

4. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

(Al-Muzammil: 1-4)

* Sholat malam ini mula-mula wajib, sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. setelah turunnya ayat ke 20 ini hukumnya menjadi sunat.



Klik untuk memperbesar

20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Muzammil: 20)




Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabarani dengan sanad yang lemah, yang bersumber dari Jabir bahwa ketika kaum Quraisy berkumpul di gedung Darun Nadwah, mereka berkata satu sama lainnya: “Mari kita carikan bagi Muhammad nama yang tepat dan cepat dikenal orang.” Mereka berkata: Kaahin (dukun). Yang lainnya menjawab: “Dia bukan dukun.” Yang lainnya berkata lagi: “Majnuun (orang gila).” Yang lainnya menjawab: “Dia bukan orang gila.” Mereka berkata lagi: “Saahir (tukang sihir)”. Yang lainnya menjawab: “Dia bukan tukang sihir.” Kejadian ini sampai kepada Nabi saw sehingga beliaupun menahan diri dengan berselimut dan berkerudung. Maka datanglah malaikat Jibril menyampaikan wahyu, yaa ayyuhal muzzammil (hai orang yang berselimut [Muhammad] (Al-Muzammil: 1) 
dan yaa ayyuhal muddatstsir (hai orang yang berkemul [berselimut]) (al-Muddatstsir: 1) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (Al-Muzammil: 1) turun saat Nabi saw sedang berselimut dengan selimut beludru.(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibrahim an-Nakho’i 


Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dllbahwa setelah turun ayat ini (Al-Muzammil: 1-4), yang memerintahkan agar kaum Muslimin bangun untuk melaksanakan shalat selama kurang lebih setengah malam pada tiap-tiap malam, para sahabat melaksanakannya dengan tekun. Kejadian ini berlangsung selama setahun sehingga menyebabkan kaki mereka bengkak-bengkak. Maka turunlah ayat berikutnya (Al-Muzammil: 20) yang memberikan keringanan untuk bangun malam dan mempersingkat bacaan. 

Read more...

Asbabun Nuzul Al-Muddatsir 1-5

0 komentar



Asbabun Nuzul
Dalam ash-Shahihain dan sirah nabawiyah diceritakan bahwa dalam masa fatrah wahyu, Rasulullah berada dalam kebimbangan dan bertanya-tanya tentang peristiwa dahsyat yang dialaminya di Gua Hira'. Beliau sendiri masih sering mendatangi gua tersebut dan melanjutkan kebiasaan tahannuts-nya.
Hingga, suatu saat, beliau berjalan di suatu tanah kosong di depan gua tersebut, dan sebuah suara memanggilnya. Beliau menengok ke kiri, mencari-cari siapa pemilik suara itu, namun tidak ada siapa pun. Beliau menengok ke kanan, dan kembali tidak ada siapapun yang terlihat disana. Suara yang memanggil nama beliau bergema kembali, dan kali ini beliau menengadahkan wajahnya ke langit. Seketika itu juga beliau jatuh berlutut, sangat terkejut, sehingga tubuhnya sampai ambruk ke tanah. Di lihatnya malaikat yang pernah mendatanginya di Gua Hira' tengah duduk di kursi, di antara langit dan bumi.
Dalam ketakutan yang sangat beliau bergegas kembali ke rumah. Badan beliau menggigil, panas dingin, seperti lazimnya seseorang yang menyaksikan sebuah peristiwa dahsyat yang mengguncang jiwa. Beliau meminta diselimuti dan disiram dengan air dingin. Saat itulah Allah mewahyukan, "ya ayyuhal muddatstsir …", dst.

Uraian al-Muddatsir 1-5
Menilik riwayat asbabun nuzul diatas, yang dimaksud dengan "berselimut" dalam ayat 1 adalah makna hakikinya, yakni menutupi badan dengan mantel atau selimut untuk menghangatkan diri. Dalam bahasa Arab, salah satu cara memanggil yang mengekspresikan kelembutan dan rasa sayang adalah memanggil seseorang menurut kondisi riil yang ada pada orang yang dipanggil tersebut. Disini, Rasulullah dipanggil dengan lembut, sesuai keadaan beliau yang sedang berselimut dan menggigil ketakutan.
Ketakutan yang dialami Rasulullah adalah sesuatu yang alamiah, tidak merusak kemuliaan beliau sebagai manusia pilihan Allah. Ini adalah ketakutan seorang manusia biasa yang untuk kedua kalinya menyaksikan makhluk yang sangat luar biasa (malaikat Jibril). Peristiwa dan reaksi serupa juga ditunjukkan oleh Musa 'alaihis salam, ketika untuk pertama kalinya diperintahkan oleh Allah melemparkan tongkatnya. Saat tongkat kayu yang telah bertahun-tahun beliau pakai itu berubah menjadi ular yang gesit, spontan beliau lari dengan tanpa menoleh (QS al-Qashash [28] : 31).
Kata qum berakar dari qawama atau qaama, yang artinya melaksanakan sesuatu secara sempurna. Perintah shalat di dalam al-Qur'an selalu dinyatakan dengan derivasi (bentuk turunan) dari kata dasar ini. Dalam al-Qur'an, seorang laki-laki (suami) disebut sebagai qawwam bagi para wanita (istri), yang maknanya adalah kewajiban untuk menegakkan urusan rumah tangganya secara sempurna, dalam segala aspeknya (QS an-Nisa' [03] : 34). Dalam ayat 2 surah al-Muddatsir ini, Rasulullah diperintahkan untuk bangkit memberi peringatan (indzar) secara sempurna, sebaik-baiknya. Makna dasar kata qum tersebut sudah cukup menjelaskan apa isi kandungan perintahnya.
Memberi peringatan (indzar), dalam penggunaan ayat-ayat al-Qur'an, biasanya dikaitkan dengan kedahsyatan peristiwa akhirat, khususnya masalah siksa yang pedih bagi mereka yang lalai. Hal ini didukung oleh riwayat sirah nabawiyah, bahwa berita pertama yang beliau ungkapkan kepada kaumnya, sesaat setelah turunnya perintah dakwah jahriyah, adalah peringatan tentang akhirat dan segala yang harus dipertanggungjawabkan oleh manusia di dalamnya.
Maka, secara pribadi, adalah penting bagi kita untuk senantiasa mempertebal keyakinan tentang akhirat. Dan, pintu pertama untuk memasukinya adalah kematian. Rasulullah sering menasihati kita untuk tidak melupakan kematian; agar tidak lalai dan lemah dalam beramal shalih; agar tidak berlarut-larut dalam dosa dan kemungkaran. Umat juga harus diberi keyakinan yang benar dan lurus tentang akhirat ini. Generasi salaf dari umat ini meraih ridha Allah dengan meyakini kebenaran akhirat, mewaspadai kematian, menyiapkan bekal lewat amal shalih, bertaubat, menjauhi dosa, dst. Tidak mungkin ada keikhlasan dan jihad jika umat tidak meyakini akhirat. Mendustakan akhirat, atau kelemahan akidah terhadap rukun iman ke-5 ini, akan membelokkan manusia ke jalan iblis, berupa dunia dan segala pesta-poranya. Na'udzu billah.
Ayat ini memberikan suatu pengarahan yang jelas, bahwa hanya Allah yang layak dibesarkan. Dengan kata lain, semua selain Allah tidak layak untuk diagung-agungkan. Kata rabb, sebagai maf'ul bih (obyek) dalam ayat ini didahulukan daripada fi'il (verba), yang mengandung pengertian bahwa hanya Dia saja yang berhak mendapatkan apa yang disebutkan dalam fi'il setelahnya. Bentuk serupa dapat ditemukan dalam surah al-Fatihah, iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in (hanya kepada-Mu kami mengabdi, hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan). Jika kita ikuti pola penerjemahannya, maka ayat 3 surah al-Muddatsir ini akan berbunyi, "dan hanya Rabb-mu yang harus engkau agungkan."
Membesarkan dan mengagungkan Allah tidak hanya menjadi sikap lahir, dalam bentuk ucapan dan perbuatan, namun juga merupakan sikap batin. Dalam praktik, misalnya jika harus ada perbenturan antara kehendak Allah (baca : syari'at) dengan kehendak selain-Nya, maka pasti kehendak-Nya jua yang harus dimenangkan dan didahulukan.
Secara lughawi, tsiyab adalah jama' dari tsaub, yang mempunai 7 makna majaz (kiasan) : hati, jiwa, usaha, badan, akhlaq, keluarga, dan istri. Sedang arti hakikinya adalah pakaian. Dalam al-Qur'an, kata ini tidak dipergunakan kecuali dalam makna hakiki, yakni pakaian yang menutupi badan secara fisik. Untuk pakaian dalam arti majaz, al-Qur'an memakai kata lain, yakni libas, yang berkenaan dengan ikatan suami-istri.
Dari sisi ini, membiarkan tsiyab dalam makna hakikinya justru memberikan keleluasaan untuk mencakup makna-makna majazi-nya. Pakaian, dalam banyak budaya di dunia, adalah simbol jiwa dan kehormatan. Para bangsawan menampakkan diri dengan memakai pakaian yang mencirikan kedudukan mereka di tengah-tengah kaumnya. Imam Abu Hanifah menganjurkan para ulama' memperhatikan pakaian yang dikenakannya sedemikian rupa, agar ilmu dan ulama' tidak diremehkan. Rasulullah sendiri sangat gemar mengenakan pakaian yang putih bersih. Dan, bagi kita, anjuran ayat ini sangat jelas, bahwa penting untuk menjaga tsiyab kita, baik dalam pengertian hakiki maupun majaz.
Jika dalam ayat 3 ditekankan pembenahan sikap batin (wa rabbaka fa kabbir), maka dalam ayat 4 ini ada perhatian khusus dari aspek lahiriah (wa tsiyabaka fa thahhir). Penampilan yang baik adalah bagian dari dakwah. Rasulullah memang sangat tidak menyukai kemewahan, apalagi gaya berdandan yang mencerminkan kesombongan dan riya'. Namun, beliau membenci orang yang tidak mengurus dirinya, sehingga berbau dan rambutnya kusut-masai. Menurut 'Aisyah, hal pertama yang dilakukan Rasulullah saat memasuki rumah adalah bersiwak (membersihkan gigi). Beliau juga melarang siapa saja memasuki masjid jika ia baru makan bawang. Beliau juga memerintahkan para Sahabat untuk mandi keramas, bercukur, mengenakan wewangian, memilih pakaian terbaik, pada saat hendak menunaikan shalat Jum'at atau dua hari raya.
Sebagian qira'at membaca ar-rujza dengan ra' di-kasrah, yaitu ar-rijza. Kata pertama berarti berhala, sedang yang kedua artinya dosa. Lebih jauh, ada yang mengganti za' dalam kata ini dengan sin, sehingga berbunyi ar-rijsa. Kata-kata ini juga memiliki makna siksa. Dengan demikian, lengkaplah pengertian kata ini : dosa, berhala, siksa.
Sebagian kata dalam bahasa Arab yang memakai sin memang bisa diganti za', bahkan shad. Misalnya, kata shiraath (dengan shad) dalam surah al-Fatihah bisa dibaca ziraath (dengan za') atau siraath (dengan sin). Maknanya tidak berbeda.
Sebelum memahami makna ayat ini, kita harus meneliti apa arti fahjur. Akar kata ini adalah hajara, yang berarti berpaling, menjauh, tidak mengajak bicara, dan menyingkir. Ada indikasi kebencian dan ketidaksukaan di dalamnya. Hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para Sahabat adalah tindakan yang dilandasi perasaan benci dan tidak suka kepada kezhaliman maupun kemusyrikan yang mereka dapati di Makkah.
Jadi, ayat ini memberikan sebuah pesan yang tegas kepada kita : tinggalkan, jauhi, berpalinglah, menyingkirlah dari segala bentuk dosa, berhala dan perbuatan yang mendatangkan siksa Allah, karena kebencian dan kesadaran akan hakikatnya. Ini terkait erat dengan akidah al-wala' wal bara' (loyalitas dan anti-loyalitas). Mencintai atau membenci sesuatu hanya karena Allah, yakni karena kita mengetahui bahwa Allah tidak menyukai dan melarang kita mendekatinya.
Wallahu 'alam bish-shawab.
Read more...

Jumat, 22 Maret 2013

Asbabun Nuzul Al-Alaq ayat 1-5

0 komentar


Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahkan Nabi SAW. datang ke gua Hira' suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di pinggir kota Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya; sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca". Lalu. dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata: "Bacalah". Nabi menjawab: "Aku tidak bisa membaca" sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surah Al `Alaq yang artinya :
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah!.
dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lalu Nabi SAW. dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan mengatakan: "Selimutilah aku! Selimutilah aku!". Nabi terus diselimuti sehingga hilanglah kegelisahannya. Lalu beliau menceritakan kepada Khadijah apa yang terjadi dan beliau menambahkan: "Aku sangat khawatir apa yang akan terjadi atas diriku" Khadijah berkata: "Tak usah khawatir; malah seharusnya engkau gembira; demi Allah, sekali-kali Tuhan tidak akan menyusahkanmu. Engkau menghubungkan silaturrahmi, berbicara benar. membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan penderita".
Kemudian Khadijah membawa Nabi SAW. menemui Waraqah bin Naufal (anak paman Khadijah). Waraqah bin Naufal adalah seorang beragama Nasrani. Ia banyak menulis buku yang berbahasa Arab dan bahasa Ibrani yang berasal dari Injil. Ia adalah seorang tua lagi buta.
Khadijah berkata kepadanya: "Wahai anak pamanku, dengarlah cerita dari anak saudaramu ini!". Lalu Waraqah bertanya: "Apakah yang ingin engkau ketahui wahai anak saudaraku?". Lalu Nabi SAW. menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi di gua Hira'. Kemudian Waraqah berkata: "Itu adalah Jibril yang pernah datang menemui Isa A.S.; sekiranya saya ini seorang pemuda yang tangkas dan kiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu", maka Nabi bertanya: "Apakah mereka akan mengusir aku?". Jawab Waraqah: "Ya! hanya sedikit yang mengemban apa yang engkau bawa ini dan banyak yang memusuhinya, maka jika aku masih kuat hidup di waktu itu pasti aku akan membantumu sekuat-kuatnya". Tidak lama sesudah itu Waraqahpun meninggal dunia. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis tersebut jelaslah bahwa lima ayat pertama surah Al `Alaq ini adalah ayat-ayat Alquran yang pertama kali diturunkan sebagai rahmat dan panggilan Allah yang pertama kali yang dihadapkan kepada Nabi SAW.
Adapun ayat-ayat lainnya diturunkan sesudah tersiarnya berita kerasulan Nabi SAW. dan sesudah Nabi mulai mengajak orang-rang beriman kepadanya. Ajakan Nabi ini pada mulanya disambut oleh sebahagian kecil orang-orang Quraisy, sedang kebanyakan mereka mengejek-ejek orang yang telah beriman dan berusaha agar jangan beriman kepada agama yang di bawa Muhammad dari Tuhannya.
Allah menyuruh Nabi agar membaca sedang beliau tidak pandai membaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau dapat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia.
Maksudnya, bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan seluruh makhluk Nya dari tidak ada kepada ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa belajar.
Read more...

Rabu, 16 Januari 2013

Surah Ar Rahman dan terjemahan

3 komentar

 سورة الرحمن – سورة ٥٥ – عدد آياتها ٧٨
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
الرَّحْمَنُ (١)عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢)خَلَقَ الإنْسَانَ (٣)عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (٤)الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ (٥)وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ (٦)وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (٧)أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (٨)وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ (٩)وَالأرْضَ وَضَعَهَا لِلأنَامِ (١٠)فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الأكْمَامِ (١١)وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ (١٢)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٣)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ (١٤)وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ (١٥)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٦)رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ (١٧)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٨)مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (١٩)بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ (٢٠)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢١)يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ (٢٢)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٣)وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ (٢٤)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٥)كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (٢٦)وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (٢٧)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٨)يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ (٢٩)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٠)سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ (٣١)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٢)يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ (٣٣)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٤)يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلا تَنْتَصِرَانِ (٣٥)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٦)فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ (٣٧)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٨)فَيَوْمَئِذٍ لا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلا جَانٌّ (٣٩)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٠)يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالأقْدَامِ (٤١)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٢)هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ (٤٣)يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ (٤٤)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٥)وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ (٤٦)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٧)ذَوَاتَا أَفْنَانٍ (٤٨)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٩)فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ (٥٠)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥١)فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ (٥٢)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٣)مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ (٥٤)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٥)فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ (٥٦)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٧)كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ (٥٨)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٩)هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦١)وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ (٦٢)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٣)مُدْهَامَّتَانِ (٦٤)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٥)فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ (٦٦)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٧)فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ (٦٨)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٩)فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ (٧٠)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧١)حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ (٧٢)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٣)لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ (٧٤)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٥)مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ (٧٦)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٧)تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (٧٨)
Surat Ar-Rahman | Klik untuk memperbesar

1. (Rabb) Yang Maha Pemurah, (QS. 55:1)
2. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. (QS. 55:2)
3. Dia menciptakan manusia, (QS. 55:3)
4. Mengajarnya pandai berbicara. (QS. 55:4)
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (QS. 55:5)
6. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. (QS. 55:6)
7. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). (QS. 55:7)
8. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (QS. 55:8)
9. Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS. 55:9)
10. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya), (QS. 55:10)
11. di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. (QS. 55:11)
12. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. (QS. 55:12)
13. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:13)
14. Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, (QS. 55:14)
15. Dia menciptakan jin dari nyala api. (QS. 55:15)
16. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:16)
17. Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya 1443. (QS. 55:17)
18. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:18)
19. Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, (QS. 55:19)
20. antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing 1444. (QS. 55:20)
21. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:21)
22. (Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. (QS. 55:22)
23. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?(QS. 55:23)
24. Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. (QS. 55:24)
25. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:25)
26. Semua yang ada di bumi itu akan binasa. (QS. 55:26)
27. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (QS. 55:27)
28. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:28)
29. Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan 1445. (QS. 55:29)
30. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:30)
31. Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin. (QS. 55:31)
32. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:32)
33. Hai jama’ah jin dan manusia,jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (QS. 55:33)
34. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:34)
35. Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya). (QS. 55:35)
36. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:36)
37. Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. (QS. 55:37)
38. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:38)
39. Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya. (QS. 55:39)
40. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:40)
41. Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya,lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka 1446. (QS. 55:41)
42. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:42)
43. Inilah neraka jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa. (QS. 55:43)
44. Mereka berkeliling diantaranya dan diantara air yang mendidih yang memuncak panasnya. (QS. 55:44)
45. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:45)
46. Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga 1447. (QS. 55:46)
47. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:47)
48. kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. (QS. 55:48)
49. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:49)
50. Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. (QS. 55:50)
51. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:51)
52. Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan. (QS. 55:52)
53. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:53)
54. Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra (QS. 55:54)
55. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:55)
56. Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin (QS. 55:56)
57. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:57)
58. Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan (QS. 55:58)
59. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:59)
60. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS. 55:60)
61. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:61)
62. Dan selain dari surga itu ada dua surga lagi 1448. (QS. 55:62)
63. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:63)
64. kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya. (QS. 55:64)
65. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:65)
66. Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar. (QS. 55:66)
67. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:67)
68. Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima. (QS. 55:68)
69. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:69)
70. Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. (QS. 55:70)
71. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:71)
72. (Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. (QS. 55:72)
73. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:73)
74. Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. (QS. 55:74)
75. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:75)
76. Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah. (QS. 55:76)
77. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:77)
78. Maha Agung nama Rabbmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia. (QS. 55:78)
Read more...