Jumat, 05 Juli 2013

TERJEMAHAN KITAB IHYA' ULUMUDDIN AL GHOZALI (MUQODDIMAH)

0 komentar


BAB PERTAMA BAGIAN PERTAMA


 إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

(Inna fii riftaalika ladzikraa Iiman kaana lahuu qalb).

"Sesungguhnya hal yang demikian itu menjadi pengajaran bagi siapa yang mempunyai hati (pengertian)(S. Qaaf, ayat 37),


بسم الله الرحمٰن الرحيم

أحمده الله أولاً حمداً كثيراً متوالياً، وإن كان يتضاءل دون حق جلاله حمد الحامدين 
Pertama-tama, aku memuji Allah, pujian yang banyak, berturut- turut, walaupun amat kecil pujian pemuji-pemuji itu, kurang dari hak keAgunganNya.

Kedua, aku bersalawat dan mengucapkan salam kepada Rasul-rasul- Nya, salawat yang meratai Rasul-rasul yang lain, bersama penghulu ummat manusia.


Ketiga, aku memohonkan kebajikan kepada Allah Ta'ala, tentang membangkitnya cita-citaku, mengarang sebuah kitab, tentang "Menghidupkan Kembali ilmu-ilmu Agama" (Ihya' Ulumiddin).


Keempat, aku menantang, untuk memotong kesombonganmu, hai pencela, yang melampaui batas pada mencela, diantara golongan orang-orang yang ingkar, yang berlebih-lebihan mencaci dan melawan, diantara lapisan orang-orang yang melawan, yang lalai.


Maka sesungguhnya telah terlepas ikatan diam dari lidahku. Telah dikalungkan pada leherku, tanggungan berkata-kata dan kalung mutiara bertutur kata, selama engkau berkekalan buta dari kebenaran yang nyata, serta berkepanjangan menolong yang batil, membaguskan kebodohan dan mengobarkan fitnah kepada orang, yang memilih mencabut diri sedikit dari adat kebiasaan orang banyak. Dan ia cenderung sedikit dari membiasakan diri mengikuti kebiasaan itu, kepada beramal dengan yang dikehendaki oleh ilmu, karena mengharap mencapai apa yang diajak oleh Allah Ta'ala beribadah kepadaNya. Yaitu : membersihkan diri dan membaikkan hati. Dan untuk memperoleh kembali sebahagian apa yang telah dibuang-buangkannya, dari menyia-nyiakan umur, karena putus-asa dari kesempumaan memperoleh kembali dan menampalkannya. Dan tersisih dari kumpulan orang, yang dikatakan terhadap mereka oleh yang empunya syari'at - rahmat Allah dan sejahteraNya kepadanya.


أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله سبحانه بعلمه


(Asyaddun naasi 'adzaaban yaumal qiyaamati 'aalimun lam yanfa-hullaahu subhaanahuu bi'ilmih). Artinya :"Manusia yang sangat menderita azab pada hart qiamat, ialah orang yang berilmu (orang alim), yang tidak diberi manfa'at oleh Allah swt. dengan ilmunya". (1 )


Demi umurku, sesungguhnya tiada sebab untuk berkekalannya kamu pada kesombongan, selain oleh penyakit yang meratai orang banyak. Bahkan telah meratai golongan orang-orang yang teledor, dari pada memperhatikan pentingnya persoalan ini. Dan bodoh, bahwa persoalan ini besar. Dan keadaannya itu sungguh- sungguh. Akhirat itu di depan dan dunia itu di belakang. Ajal itu dekat.Perjalanan itu jauh. Perbekalan itu sedikit. Bahaya itu besar. Dan jalan itu tertutup. Selain keikhlasan karena wajah Allah, dari ilmu dan amal, adalah tertolak pada pihak pengecam, yang dapat melihat.


Berjalan ke jalan akhirat serta banyaknya tipu-daya tanpa penunjuk dan teman adalah pay ah dan sukar. Maka penunjuk-penunjuk jalan itu ialah kaum ulama. Mereka adalah pewaris nabi - nabi. Telah kosonglah zaman dari mereka. Tidak ada yang tinggal, kecuali orang-orang yang berbuat resmi-resmian. Kebanyakan telah digoda sethan dan terjerumus ke dalam kesesatan. Masing-masing mereka telah tertarik kepada keuntungan yang dekat. Lalu memandang yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik. Sehingga ilmu agama senantiasa terinjak-injak dan nur hidayah hilang lenyap disegala pelosok bumi.


Orang-orang itu berkhayal kepada orang banyak, bahwa ilmu pengetahuan itu tak lain, dari fatwa pemerintah yang dipakai oleh para kadli (hakim) untuk menyelesaikan persengketaan ketika berkecamuk kezaliman. Atau ilmu pengetahuan itu ialah jidal (perdebatan), yang diperalat oleh orang yang mencari kemegahan untuk memperoleh kemenangan dan keuntungan. Atau ilmu pengetahuan itu ialah sajak yang dihiasi, yang dipergunakan oleh juru-juru nasehat supaya dapat mempengaruhi orang awam. Karena mereka itu, tidak melihat, selain dari yang tiga tadi, tempat memburu yang haram dan menangguk harta kekayaan duniawi.


1.Hadits Ini diriwayatkan Ath-Thabrarani dan AL -Baihaqi dari Abu Hurairah dengan isnad dla'ff.


Adapun ilmu jalan akhirat yang ditempuh ulama-ulama terdahulu yang saleh, yang dindmakan oleh Allah swt. dalam KitabNya dengan Fiqih, Hikmah, Ilmu, Cahaya, Nur, Hidayah dan Petunjuk, maka telah dilipat dari orang banyak dan menjadi hal yang dilupakan.


Manakala hal yang demikian itu menghancurkan Agama dan mendatangkan bahaya yang mengerikan, maka aku berpendapat bahwa berusaha menyusun kitab ini, adalah penting untuk Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama (Ihya Ulumiddin), membukakan jalan yang dilalui imam-imam yang terdahulu dan memberi penjelasan maksud dari ilmu pengetahuan yang berguna, dari nabi- nabi dan ulama-ulama terdahulu yang saleh.



Aku buat dasar kitab ini empat bahagian besar (empat rubu') yaitu:



1.bagian (rubu') per'ibadatan (rubu' 'ibadah).

2.bagian (rubu') pekerjaan sehari-hari (rubu'adat kebiasaan).
3.bagian (rubu') perbuatan yang membinasakan (rubu'al-muhlikat).
4.bagian (rubu') perbuatan yang menyelamatkan (rubu' al-munjiyat).

Aku mulai sejumlah dengan "kitab ilmu", karena ilmu itu amat penting, untuk pertama-tama aku bentangkan, tentang ilmu, di mana segala orang berbakti kepada Allah dengan menuntutnya, di atas sabda Rasul saw. yang bersabda :


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : طلب العلم فريضة على كل مسلم


(Thalabul 'ilmi fariidlatun 'alaa kulli muslim) Artinya :"Menuntut ilmu itu wajib atas tiap-tiap muslim". (1) Diriwayatkan Ibnu Majah dari Anas Dipandang dla'if oleh AlBaihaqi dan lainnya.


إذ قال صلى الله عليه وسلم : نعوذ بالله من علم لا ينفع


(Na'uudzu billaahi min 'ilmin laa yanfa').

Artinya :"Kita berlindung dengan Allah, dari ilmu yang tidak bermanfa'at". (Diriwayatkan Ibnu Majah dari Jabir dengan isnad baik.)Aku akan buktikan kecenderungaii manusia sekarang, jauh dari bentuk kebenaran. Tertipunya mereka dengan kilatan patamorgana. Dan kepuasan mereka dengan kulit ilmu, tanpa isi.

Bagian (rubu') ibadah, melengkapisepuluh kitab :


1.Kitab ilmu.

2.Kitab kaidah-kaidah i'tikad (aqidah).
3.Kitab rahasia (hikmah) bersuci.
4.Kitab hikmah shalat.
5.Kitab hikmah zakat.
6.Kitab hikmah shiam(puasa).
7.Kitab hikmah hajji.
8.Kitab adab (kesopanan) membaca Al-Qur'an.
9.Kitab dzikir dan do'a.
10 Kitab tartib wirid pada masing-masing waktunya.


Bagian (rubu') pekerjaan sehari-hari melengkapi sepuluh kitab :

1.Kitab adab makan.

2.Kitab adab perkawinan.


3.Kitab hukum berusaha (bekerja).


4.Kitab halal dan haram.


5.Kitab adab berteman dan bergaul dengan berbagai golongan manusia.


6.Kitab 'uzlah (mengasingkan diri).


7.Kitab adab bermusafir (berjalan jauh).


8.Kitab mendengar dan merasa.


9.Kitab amar ma'ruf dan nahi mungkar.


10. Kitab adab kehidupan dan budi-pekerti (akhlaq) kenabian.

  


Bagian (rubu') perbuatan yang membinasakan, melengkapi sepuluh kitab :



1.Kitab menguraikan keajaiban hati.

2.Kitab latihan diri (jiwa).
3.Kitab bahaya hawa nafsu perut dan kemaluan.
4.Kitab bahaya lidah.
5.Kitab bahaya marah, dendam dan dengki.
6.Kitab tercelanya dunia.
7.Kitab tercelanya harta dan kikir.
8.Kitab tercelanya sifat suka kemegahan dan cari muka (ria).
9.Kitab tercelanya sifat takabur dan mengherani diri ('ujub).
10. Kitab tercelanya sifat tertipu dengan kesenangan duniawi.





Bagian (rubu') perbuatan yang melepaskan, melengkapi sepuluh kitab :



1.Kitab taubat.

2.Kitab sabar dan syukur.
3.Kitab takut dan harap.
4.Kitab fakir dan zuhud.
5.Kitab tauhid dan tawakkal.
6.Kitab cinta kasih , rindu , jinak hati dan rela.
7.Kitab niat, benar dan ikhlas.
8.Kitab muraqabah dan menghitung amalan.
9.Kitab memikirkan hal diri (tafakkur).
10Kitab ingat mati.


Adapun bahagian 'ibadah, maka akan saya terangkan nanti peri adabnya yang mendalam, sunat-sunatnya yang halus-halus dan maksudnya yang penuh hikmah, yang diperlukan oleh orang yang ber- ilmu, yang mengamalkan. Bahkan tidaklah dari ulama akhirat, orang yang tidak memperhatikan kepadanya. Dan yang terbanyak daripadanya, adalah termasuk yang disia-siakan dalam ilmu fiqih.Adapun bahagian pekerjaan sehari-hari, maka akan saya terangkan hikmah pergaulan yang berlaku antara sesama manusia, liku-likunya, sunatnya yang halus-halus dan sifat memelihara diri yang tersembunyi pada tempat-tempat lalunya. Yaitu, yang harus dipunyai oleh orang yang beragama.


Adapun bahagian perbuatan yang membinasakan, maka akan saya terangkan nanti semua budi pekerti yang tercela yang tersebut dalam Al-Qur'an, dengan menghilangkannya membersihkan jiwa dan mensucikan hati daripadanya. Saya akan terangkan masing-masing dari budi pekerti itu, batas dan hakikatnya. Kemudian akan saya sebutkan sebab terjadinya, kemudian bahaya yang timbul dari padanya, kemudian tanda-tanda mengenalinya, kemudian cara mengobatinya supaya terlepas kita dari padanya. Semuanya itu, disertai dengan dalil-dalil ayat, hadits dan kata-kata shahabat Nabi (atsar).


Adapun bahagian perbuatan yang melepaskan, maka akan saya terangkan semua budi pekerti yang terpuji dan keadaan yang disukai, yang menjadi budi pekerti orang-orang muqarrabin dan shiddiqin, yang mendekatkan hamba kepada Tuhan semesta alam. Saya akan terangkan pada tiap-tiap budi pekerti itu, batasnya, hakikatnya, sebab yang membawa tertarik kepadanya, faedah yang dapat diperoleh daripadanya, tanda-tanda untuk mengenalinya dan keutamaan yang membawa kegemaran kepadanya, serta apa yang ada padanya, dari dalil-dalil syari'at dan akal pikiran,


Penulis-penulis lain sudah mengarang beberapa buku mengenai sebahagian dari maksud-maksud tadi. Akan tetapi kitab ini, berbeda dari buku-buku itu dalam lima hal



1.Menguraikan dan menjelaskan apa yang ditulis penulis-penulis lain secara singkat dan umum.

2.Menyusun dan mengatur apa yang dibuat mereka itu berpisah-pisah dan bercerai-berai.
3.Menyingkatkan apa yang dibuat mereka itu berpanjang-panjang dan menentukan apa yang ditetapkan mereka.
4..Membuang apa yang dibuat mereka itu berulang-ulang dan menetapkan dengan kepastian diantara yang diuraikan itu.
5..Memberi kepastian hal-hal yang meragukan yang membawa kepada salah paham, yang tidak disinggung sedikitpun dalam buku-buku yang lain. Karena semuanya, walaupun mereka itu menempuh pada suatu jalan, tetapi tak dapat di bantah, bahwa masing-masing orang salik (orang yang berjalan pada jalan Allah) itu mempunyai perhatian tersendiri, kepada sesuatu hal yang tertentu baginya dan dilupakan teman-temannya. Atau ia tidak lalai dari perhatian itu, akan tetapi lupa dimasukkannya ke dalam buku-bukunya. Atau ia tidak lupa akan tetapi ia dipalingkan oleh sesuatu yang memalingkannya dari pada menyingkapkan yang tertutup daripadanya.Maka inilah keadaan-keadaan khusus bagi kitab ini serta mengandung pula semua ilmu pengetahuan itu.

Sesungguhnya yang membawa aku mendasarkan kitab ini pada empat bahagian (rubu), adalah dua hal :


Pertama :-yaitu pendorong asli—bahwa susunan ini pada menjelaskan hakikat dan pengertian, adalah seperti ilmu dlaruri (ilmu yang mudah, tak memerlukan kepada pemikiran mendalam). Sebab pengetahuan yang menuju ke akhirat itu, terbagi kepada ilmu mu'amalah dan ilmu mukasyafah.


Yang dimaksud dengan ilmu mukasyafah ialah yang diminta mengetahuinya saja. Dan dengan ilmu mu'amalah ialah yang diminta, di samping mengetahuinya, hendaklah diamalkan. Dan yang dimaksudkan dari kitab ini, ialah ilmu mu 'amalah saja, tidak ilmu mukasyafah, yang tidak mudah menyimpannya di buku-buku, meskipun menjadi tujuan maksud para pelajar dan keinginan perhatian orang-orang shiddiqin.


Dan ilmu mu'amalah itu adalah jalan kepada ilmu mukasyafah. Tetapi, para nabi -rahmat Allah kepada mereka tidak memper katakan pada orang banyak, selain mengenai ilmu untuk jalan dan petunjuk kepada ilmu mukasyafah itu.


Adapun ilmu mukasyafah, mereka tidak memperkatakannya selain dengan jalan rumus dan isyarat, yang merupakan contoh dan kesimpulan. Karena para Nabi itu tahu akan singkatnya paham orang banyak untuk dapat memikulnya.


Alim ulama itu adalah pewaris Nabi-nabi. Maka tiada jalan bagi mereka untuk berpaling daripada mengikuti dan mematuhinya.



Kemudian, ilmu mu'amalah itu terbagi kepada :


1- ilmu dhahir, yaitu ilmu, mengenai amal perbuatan anggota badan.

2.-ilmu bathin, yaitu ilmu mengenai amal perbuatan hati dan yang melalui pada anggota badan.


Adakalanya adat kebiasaan dan adakalanya 'ibadah.


Dan yang datang pada hati, yang dengan sebab terdinding dari pancaindra, termasuk bagian alam malakut, adakalanya terpuji dan adakalanya tercela. Maka seharusnyalah, ilmu ini terbagi dua, yaitu : dhahir dan bathin.



Bagian dhahir yang menyangkut dengan anggota badan, terbagi kepada adat kebiasaan dan ibadah. Bagian bathin yang menyangkut dengan hal ihwal hati dan budi pekerti jiwa, terbagi kepada : yang tercela dan yang terpuji. Jadi, semuanya berjumlah empat bahagian. Dan tidaklah kurang perhatian pada ilmu mu'amalah, dari bahagian-bahagian ini.




Pendorong Kedua :

Yang menggerakkan untuk menyusun kitab ini menjadi empat bahagian, ialah aku melihat keinginan para pelajar, besar sekali kepada ilmu fiqih, ilmu yang layak bagi orang yang tidak takut kepada Allah swt., yang memperalat ilmu itu untuk mencari kemegahan dan penonjolan dengan kemegahan serta kedudukan dalam perlombaan. Dan ilmu fiqih itu terdiri dari empat bahagian. Dan orang yang menghiasi dirinya dengan hiasan yang disukai orang banyak, tentu dia akan disukai. Maka aku tidak jauh dalam membentuk kitab ini dengan bentuk fiqih untuk menarik hati golongan pelajar-pelajar. Dan karena inilah, sebahagian orang yang ingin menarik hati pembesar-pembesar kepada ilmu kesehatan, bertindak lemah lembut, lalu membentuknya dalam bentuk ilmu bintang dengan memakai ranji dan angka. Dan menamakannya ilmu taqwim kesehatan, supaya kejinakan hati mereka dengan cara itu menjadi tertarik kepada membacanya.


Berlemah-lembut menarik hati orang kepada ilmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan abadi, adalah lebih penting daripada kelemah-lembutan menariknya kepada ilmu kesehatan, yang faedahnya hanya untuk kesehatan jasmaniyah belaka.



Faedah pengetahuan ini ialah membawa kesehatan kepada hati dan jiwa yang bersambung terus kepada kehidupan abadi. Apalah artinya ilmu kesehatan itu yang hanya dapat mengobati tubuh kasar saja, yang akan hancur binasa dalam waktu yang tidak lama lagi. Kita bermohon kepada Allah swt. akan taufiq bagi petunjuk dan kebenaran. Bahwa Allah Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.
Read more...

10 CIRI-CIRI Sifat Calon Suami Yang Baik

0 komentar


"Semoga dikaruniakan suami soleh yang membimbing saya dunia dan akhirat."

Jawaban begini biasa diberikan gadis yang bakal mendirikan rumahtangga ataupun pengantin baru.
Kebanyakan wanita jika diajukan mengenai jodoh, mahu suami soleh. Tetapi, apakah suami yang diidamkan itu, benar-benar memenuhi keperluan wanita?
Coba kita lihat apa yang terjadi dalam sebuah rumah tangga selepas doa si gadis untuk mendapatkan 'lelaki soleh' mungkin sudah dimakbulkan Allah SWT.

Lelaki yang soleh amat takut kepada Allah SWT. Salah satu bukti ketakutannya kepada Allah ialah mengerjakan solat. Jadi, lelaki soleh akan menyuruh, malah terkadang sampai memaksa isterinya untuk menunaikan solat.

Lelaki yang soleh amat taat kepada Allah. Islam mewajibkan wanita menutup aurat. Jadi, suami yang soleh tidak akan sekali-kali membenarkan isterinya keluar rumah atau mengenakan pakaian sesuka hati. Juga berhias dan ber'make-up' tebal. Suami yang soleh akan memastikan si isteri menututp aurat. Tetapi ada isteri yang kurang senang dengan perkara begini. Bukankah dahulu, anda berdoa untuk mendapat suami yang soleh, tetapi apabila doa anda dimakbulkan anda bantah pula cakapnya!

10 Sifat Calon Suami Yang Baik

Jika anda seorang wanita, carilah lelaki yang mempunyai sifat-sifat berikut.Jika anda seorang lelaki, jadilah seorang lelaki yang mempunyai sifat-sifat berikut.

1. Kuat amalan agamanya. Menjaga solat fardhu, kerap berjemaah dan solat pada awal waktu. Auratnya juga sentiasa dipelihara dan memakai pakaian yang sopan.

2. Akhlaknya baik,
yaitu seorang yang nampak tegas, tetapi sebenarnya seorang yang lembut dan mudah bertolak ansur. Tutur Kata juga mesti sopan, melambangkan pribadi dan hatinya yang mulia.

3. Tegas mempertahankan martabatnya. Tidak berkunjung ke tempat-tempat yang boleh menjatuhkan kredibilitasnya.

4. Amanah, tidak mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak menyalahgunakan kuasa dan kedudukan.

5. Tidak boros, tetapi tidak pelit. Tau membelanjakan uang dengan bijaksana.

6. Menjaga mata dengan tidak melihat perempuan lain yang lalu lalang ketika sedang bercakap-cakap.

7. Pergaulan yang terbatas, tidak mengamalkan cara hidup bebas walaupun dia tahu dirinya mampu berbuat demikian.

8. Mempunyai rekan pergaulan yang baik. Rekan pergaulan seseorang itu biasanya sama.

9. Bertanggung jawab. Lihatlah dia dengan keluarga dan ibu bapanya.

10. Wajah yang tenang

**************



Read more...

Selasa, 02 Juli 2013

10 Sifat Mahmudah

0 komentar



Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

“Ya Allah Ya Tuhan Ku Abadikan Hati Ini Dengan Sifat Mahmudah (Terpuji)” Aamiin heartheartheart smile

Imam Ghazali menggariskan sifat mahmudah (terpuji) kepada beberapa bahagian:

1. TAUBAT – Keazaman untuk meningglkan segala kesalahan dan dosa-dosa besar, melalui jalan il,u, penyesalan dan niat untuk tidak mengulanginya.

2. TAKUT AKAN ALLAH s.w.t. – Perasaan takut terhadap Allah akan membuatkan seseorang itu melipat gandakan amalan soleh dan meninggalkan larangan-Nya.

3. MAHABBAH – Mengasihi Allah dan Rasul melebihi segala yang lain akan melahrkan rasa cinta kepada agama dan rela berjuang kerana mempertahankan Islam.

4. ZUHUD – Kehidupan insane Mukmin yang mengekang jiwa daripada segala rupa kesenangan dunia yang berlebihan dan meninggalkan perkara yang tidak baik.

5. SABAR – Perasaan memujuk jiwa dengan keimanan. Ia merangkumi sabar atas ketaatan dan juga sabar dalam menjauhi maksiat.

6. SYUKUR – Bersyukur kepada Allah s.w.t. atas nikmat kesihatan, rezeki kemudahan hidup, kurniaan pancaindera dan sebagainya.

7. IKHLAS DAN BENAR – Untuk mencapai tingkatan ikhlas ini, amat dituntut untuk mematahkan dorongan hawa nafsu dan kasih akan dunia.

8. TAWAKAL – Tawakal ialah meletakkan pergantungan hanya pada Allah s.w.t. setelah berazam. Seterusnya diikuti dengan usaha.

9. REDA DENGAN QADAK ALLAH – Segala ketentuan Allah sama ada baik atau buruk diterima dengan syukur atau sabar oleh insane Mukmin.

10. MENGINGATI MATI – Sepintar-pintar manusia ialah orang yang sentiasa ingat pada mati dan sentiasa bersedia menghadapinya, mereka itulah orang yang bijaksana.

(heart Semoga Bermanfaat & Silahkan Di Share heart)

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#
... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa atuubu Ilaik



Read more...

Senin, 01 Juli 2013

Analogi Kehidupan Manusia

0 komentar



Ada seorang pemuda yang sedang berjalan- jalan ditepi hutan untuk mencari udara segar, ketika dia sedang berjalan-jalan, tiba -tiba terdengarlah Bunyi ngauman suara harimau…

Auuuummmm… .!!!!!

Seekor harimau yang sedang lapar Dan mencari mangsa untuk mengisi perutnya. Tiba-tiba tanpa disedari oleh pemuda tersebut.. harimau itu sudah berada dihadapan pemuda itu. Disebabkan terlalu takutkan harimau itu, dia pun berlari dan sejauh yg termampu , Harimau yang sedang lapar itu sudah tentu tidak akan melepaskan dia pergi begitu sahaja , harimau itu pun mengejar pemuda tadi .

Ditengah kepanikkan itu, pemuda tadi sempat Berdoa, agar diselamatkan dari terkaman harimau itu dan dia amat bersyukur kerana doanya dikabulkan, dalam keadaan dia sedang berlari dia terpandang sebuah perigi tua,, terlintas Difikirannya untuk lompat kedalam perigi itu, kerana harimau pasti tidak akan mengejarnya dan ikut lompat sama kedalam perigi tersebut.

Amat bernasib baiklah pemuda itu kerana ditengah-tengah perigi itu ada tali yang menjulur ke bawah, jadi pemuda tadi tidak perlu melompat yang mungkin akan menyebabkan kakinya patah disebabkan dalamnya perigi tersebut.

Namun, tali itu pendek Dan tak termampu untuk dia menjejakkan kaki kedasar perigi tersebut , dan akhirnya dia bergayutlah ditengah-tengah perigi itu, ketika pemuda itu sedang bergayut , pemuda itu mengangkat mukanya keatas, ternyata harimau tadi masih menunggunya dibibir perigi itu , Dan ketika dia menunduk kebawah, terdengar suara kacukan air yang ganas,.. setelah diamati ternyata Ada 2 ekor buaya yang ganas yang berusaha menggapai badannya,.

Pemuda itu mengeluhhh....

Ya Allah apakah yg harus aku lakukan???, diatasku harimau sedang menunggu, dibawah buaya bersiap-sedia menerkamku, ketika pemuda itu sedang memikirkan cara untuk keluar dari perigi itu, tiba-tiba di celah-celah perigi itu terdapat lobang kecil dan tanpa di jangka oleh pemuda itu maka keluarlah seekor tikus putih .

.ciiit…ciiit. .. ….ciit…yang naik meniti tali pemuda tadi Dan ia menggigit tali pemuda tadi, belum sempat pemuda itu terjaga dari terkejutnya dia akan hal itu pada masa yang sama dari lobang itu juga muncul lagi seekor tikus hitam yang melakukan hal sama seperti tikus putih tadi menggigit tali yang diguna oleh pemuda itu untuk begayut.

ooohhhh…jika tali ini putus, .habislah riwayatku dimakan buaya..!!! Cemas dia berpikir,… jika aku naik keatas …, sudah pasti harimau menerkamku, . ..jika menunggu disini , tali ini akan putus Dan Buaya dibawah ini telah lama bersiap sedia untuk menjamahku...
Saat itulah dia mendengar deruan serombongan lebah yang sedang mengangkut madu untuk dibawa kesarang Mereka,.. dia mendongakkan wajahnya keatas ..Dan tanpa disangka-sangka jatuhlah setitis madu dari lebah itu dan kebetulan jatuh tepat dalam mulut pemuda itu..

Spontan pemuda tadi berkata…
Subhanallah ... Alangkah manisnya madu Ini ,.. baru kali ini aku merasakan madu semanis Dan selazat ini…!!! Dia lupa akan ancaman buaya Dan harimau tadi.

Tahukah kamu, inti pati dari cerita diatas…secara analoginya -- Pemuda tadi adalah Kita semua 'manusia', harimau yang mengejar adalah maut Kita, ajal memang selalu mengejar kita . Jadi ingatlah akan mati. Dua ekor buaya adalah diumpamakan sebagai malaikat Munkar Dan Nakir yang menunggu Kita di alam kubur Kita nantinya .
Tali tempat pemuda bergayut adalah umur Kita ,. Tikus putih Dan tikus hitam adalah dunia Kita siang Dan juga malam yang sentiasa mengikis umur Kita. Diibaratkan cerita tikus td yang menggigit tali pemuda itulah siang dan malam . Madu setitis yang jatuh itu adalah nikmat dunia yang hanya sebentar. Bayangkan madu setitis tadi masuk ke mulut pemuda itu, dia terlupa akan ancaman harimau Dan buaya yang sedang menunggunya ,.. begitulah Kita , ketika Kita menerima nikmat sedikit, Kita lupa kepada Allah . Ketika susah baru ingat kepada Allah.. Astaghfirullah
Read more...

Rabu, 26 Juni 2013

Falsafah Iqra

0 komentar



"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
   Dia telah menciptakan manusia dari alaq. Bacalah, dan
   Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia
   dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
   belum diketahuinya" (QS Al-Alaq [96]: 1-5).

Mengapa iqra,  merupakan  perintah  pertama  yang  ditujukan
kepada  Nabi, padahal beliau seorang ummi (yang tidak pandai
membaca dan menulis)? Mengapa demikian?

Iqra terambil dari akar  kata  yang  berarti  "menghimpun,"
sehingga tidak selalu harus diartikan "membaca teks tertulis
dengan aksara tertentu."

Dari  "menghimpun"  lahir   aneka   ragam   makna,   seperti
menyampaikan,  menelaah, mendalami, meneliti mengetahui ciri
sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak.

Iqra (Bacalah)! Tetapi apa yang harus dibaca?  "Ma  aqra?"
tanya  Nabi  -dalam  suatu riwayat- setelah beliau kepayahan
dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s.

Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki  agar
beliau  dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut
Bismi Rabbik; dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Iqra  berarti  bacalah,  telitilah,  dalamilah,  ketahuilah
ciri-ciri  sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman,
sejarah, diri sendiri, yang  tertulis  dan  tidak  tertulis.
Alhasil  objek  perintah  iqra mencakup segala sesuatu yang
dapat dijangkaunya.

Demikian terpadu dalam perintah ini segala macam  cara  yang
dapat ditempuh manusia untuk meningkatkan kemampuannya.

Pengulangan  perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan
sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak  diperoleh
kecuali  mengulang-ulangi  bacaan,  atau  membaca  hendaknya
dilakukan sampai mencapai batas maksimal  kemampuan,  tetapi
juga  untuk  mengisyaratkan  bahwa  mengulang-ulangi  bacaan
Bismi  Rabbika  (demi  karena   Allah)   akan   menghasilkan
pengetahuan  dan  wawasan  baru walaupun yang dibaca itu-itu
juga.

Mengulang-ulang membaca ayat Al-Quran menimbulkan penafsiran
baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta
kesejahteraan batin.  Berulang-ulang  "membaca"  alam  raya,
membuka   tabir  rahasianya  dan  memperluas  wawasan  serta
menambah kesejahteraan lahir. Ayat Al-Quran yang  kita  baca
dewasa ini tak sedikit pun berbeda dengan ayat Al-Quran yang
dibaca Rasul dan generasi terdahulu. Alam raya pun demikian,
namun   pemahaman,   penemuan   rahasianya,  serta  limpahan
kesejahteraan-Nya terus berkembang, dan  itulah  pesan  yang
dikandung   dalam  Iqra  wa  Rabbukal  akram  (Bacalah  dan
Tuhanmulah  yang  paling  Pemurah).  Atas   kemurahan-Nyalah
kesejahteraan demi kesejahteraan tercapai.

(Dikutip dari Tulisan Prof Dr. Muhammad Quraish Shihab MA. Dalam buku Wawasan  Al-Quran Terbitan Mizan-Bandung)

Inilah salah satu modal tuk belajar dan mempraktekan membaca fenomena
Al-Quran yang terpampang di segenaf ufuk dan dalam diri manusia itu sendiri  (Q.S. Al-Fushilat 59), sehingga dapat diketahuilah bahwasannya Al-Qur’an adalah benar adanya  Shodaqallahul’adzim dan dengan modal iqra inilah kita semua dapat membaca ayat-ayat Al-Quran tanpa melalui perantaraan dan intervensi subyektifitas manusia yang dituangkan dalam bentuk tulisan.


Read more...