Senin, 03 Juni 2013

Jaga Lisan

0 komentar



SUATU hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya.” Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya, “Sungguh ia termasuk ahli neraka.”
Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah SAW berkata, “Sungguh ia termasuk ahli surga.”(HR.Muslim)
Sebagai makhluk sosial, tentu semua orang tidak bisa lepas dari interaksi dengan sesama. Siang dan malam kita pasti bertutur kata. Tak satu pun manusia yang bisa hidup tanpa berbicara.
Berbicara merupakan media utama dari seluruh proses interaksi sosial. Baik buruknya proses interaksi sosial salah satunya dipengaruh oleh bagaimana kita bertutur kata. Karenanya, agar apa yang kita ucapkan tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri, lebih-lebih membahayakan orang lain baik di dunia maupun di akhirat, kita mesti cermat dalam berbicara.
Cermat dalam arti mengerti dengan baik bahwa kita hanya boleh berbicara yang memiliki kandungan manfaat, ilmu, atau nasehat, serta yang bisa menjernihkan sebuah permasalahan. Sekiranya kita tidak mengerti apa yang harus kita ucapkan sebaiknya berpikirlah lebih dulu, sebelum memutuskan untuk ikut berbicara.
Seringkali seseorang berbicara tanpa diawali proses berpikir dan tidak melalui pertimbangan sebelumnya. Tindakan seperti itu berpotensi mengundang masalah baru yang boleh jadi akan berlarut-larut, sehingga memperkeruh keadaan dan mengancam tali ukhuwah dengan sesama Muslim. Apabila hal ini terjadi maka tidak ada tempat bagi orang yang berbicara kecuali neraka.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknyaa lebih jauh antara timur dan barat.” (HR. Bukhari Muslim).
Pepatah mengatakan, “Mulutmu harimaumu.” Oleh karena itu, kecermatan dalam berbicara mutlak harus kita upayakan. Kita perlu tahu secara pasti, kapan kita bicara, apa yang harus kita bicarakan, dan paling penting adalah manfaat apa yang akan diperoleh diri sendiri, yang mendengar dan orang lain, tatkala kita berbicara.
Dalam situasi kita tidak mengerti apa yang harus kita ucapkan, tidak berbicara adalah langkah yang bijaksana. Maka pantas jika kemudian Lukman al-Hakim menasehati putranya dengan mengatakan bahwa, “Diam itu hikmat tapi sedikit sekali orang yang melakukannya.”
Akan tetapi, manakala kita mengerti secara mendalam dan komprehensif akan hakikat sesuatu dan penjelasan akan hakikat sesuatu itu sangat dibutuhkan, maka berbicara dalam konteks ini adalah wajib. Sebagaimana telah ditegaskan oleh rasulullah saw dalam sebuah hadisnya.
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” (HR. Bukhari).
Imam Nawawi menjabarkan bahwa hadis di atas adalah hadis shohih, yang menjelaskan bahwa kita tidak pantas berbicara kecuali berbicara yang baik dan jelas-jelas mengandung maslahat. Bila diragukan kemaslahatannya, maka diam adalah langkah yang utama untuk dilakukan.
Jadi berbicara menduduki posisi yang sangat strategis. Dengan iman dan ilmu, pembicaraan yang kita lakukan dapat mengundang berkah dan keridhaan Allah SWT. Sebaliknya, berbicara terus-menerus tanpa ilmu, tanpa berpikir panjang akan mengantarkan kita pada kemurkaan-Nya.
Termasuk tatkala kita ingin menghibur orang lain dengan perkataan lucu. Sekalipun dalam maksud bercanda, berbicara yang lucu tetap tidak boleh mengandung unsur dusta atau sia-sia belaka.
Rasulullah sangat melarang umatnya berbicara, berbohong meski dengan maksud agar orang lain tertawa karena mendengarkannya.
"Celaka bagi orang yang berkata kemudian berbohong supaya orang-orang tertawa, maka celaka baginya, maka celaka baginya." (HR. Abu Dawud)
Sepanjang hari, siang dan malam setiap orang pasti berbicara. Dan, esok hari pun kita akan berbicara dan terus berbicara. Oleh karena itu hemat dan cermatlah dalam berbicara. Jangan sekali-kali membuka celah untuk berkata bohong. Sebab pintu-pintu kebohongan lainnya akan terbuka demi untuk menutupi kebohongan pertama.
Maka dari itu tidaklah berlebihan jika perkataan yang baik itu memiliki derajat yang lebih utama daripada sedekah yang diungkit-ungkit hingga menyakiti perasaan yang menerimanya.

قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263).
Kini, marilah kita jaga lisan kita dari kata-kata yang tak berguna.*/Imam Nawawi


Read more...

Kamis, 30 Mei 2013

Abdul Raheem Green: Ku Menemukan Tujuan Hidup dalam Islam

0 komentar



Abdul Raheem Green: Ku Menemukan Tujuan Hidup dalam Islam

REPUBLIKA.CO.ID, ‘’Apa tujuan hidup di dunia ini?’’

Pertanyaan yang terus berkecamuk dalam hati Abdul Raheem Green itu telah mengantarkannya pada sebuah pencarian spiritual. Bagi sebagian orang, manusia hidup untuk menjadi kaya. Namun, Green tahu itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.

‘’Benarkah menjadi kaya akan membuat seorang bahagia?’’ tanyanya dalam hati.

Ternyata kekayaan tak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Banyak orang kaya di dunia ini, tapi mereka tak merasakan kebahagiaan. Tak mudah bagi Green untuk menemukan jawaban tentang tujuan hidup di dunia ini.

Ia mencari jawaban atas pertanyaannya melalui jalur spiritual. Ia sempat berganti-ganti agama untuk mendapatkan jawabannya. Namun, beberapa agama yang sempat disinggahinya tak mampu memberikan jawaban. Di akhir pencariaannya, ia berkenalan dengan Islam.

Hati Green pun terpikat kepada Islam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu mampu memberinya jawaban atas pertanyaan yang selalu mengusik kehidupannya. Lantas bagaimanakah Islam menjawab pertanyaan seorang pria bernama Green?

Green terlahir dalam sebuah keluarga yang menganut Katholik Roma. Keluarganya sangat patuh terhadap ajaran agama. Ayahnya seorang tentara dan ibunya adalah seorang polisi di salah satu kota di Inggris.

Kedua orangtuanya bersepakat untuk membesarkan buah hatinya dengan agama nilai-nilai agama. Mereka memasukkan Green ke sekolah asrama Katholik. Sekolah asrama itu cukup terkenal di Inggris. Green pun cukup senang belajar di sekolah tersebut.

Selain menimba pelajaran umum, Green dan murid-murid lainnya harus mengikuti pelajaran, agama seperti membaca Alkitab dan sejarah-sejarah Kristen. Awalnya, tidak ada masalah yang berarti bagi Green ketika belajar di sekolah asrama Katholik itu. Semua mulai berubah, ketika ia berpikir tentang Tuhannya, Yesus.

Green berpendapat sosok Tuhan tidak mungkin bisa mati. Ia juga berpikir bagaimana mungkin seorang Tuhan memiliki seorang ibu. “Kalau Tuhan memiliki ibu, maka ibunya adalah Tuhan dari Tuhan,” pikirnya. Hal ini mengganjal terus hingga ia dewasa.

Ia tidak dapat menerima kenyataan itu. Lalu, Green berusaha mencari tahu mengapa Tuhan memiliki seorang ibu. Akan tetapi, ia tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. Orang-orang yang ia tanya tidak dapat menjawabnya.

Mereka hanya meminta Green untuk mempercayai dan mendengarkan apa yang diajarkan padanya. Namun, rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya. Green tidak mau menyerah. ‘’Apabila orang lain tidak dapat menjawabnya, maka aku akan mencari sendiri jawabannya,’’ ujar Green.

Ketika usianya semakin beranjak dewasa, pertanyaan lain muncul dalam hidupnya. ‘’Apakah yang menjadi tujuan dalam hidup ini? Apakah hidup itu hanya seperti memiliki pekerjaan bagus, hidup yang normal dan indah serta uang yang banyak? Apakah kehidupan itu seperti itu? Lalu bagaimana dengan kematian?’’

Ia amat yakin sekali bahwa kehidupan yang dijalaninya tak semata untuk mengumpulkan uang, memiliki keluarga, dan menjalani kehidupan monoton sepertu yang banyak dilakukan orang sekarang. Green meyakini ada sesuatu yang lebih dari itu.

Karena tidak menemukan jawabannya dalam Katolik yang dianutnya sejak lahir, Green mencoba mencarinya dalam agama Buddha. Ia mencari tentang kehidupan di agama Shidarta Gautama itu.

Green mempelajari banyak hal dalam Buddha. Meskipun banyak orang menganggap Buddha bukanlah sebuah agama, ia menemukan banyak nilai-nilai positif di dalamnya. Akan tetapi ia tidak menemukan adanya Tuhan dalam agama tersebut. “Meski begitu, saya tetap mempercayai adanya Tuhan, karena saya tahu Dia ada,” kata Green.

Buddha mengajarkan bahwa hidup itu adalah penderitaan. Manusia harus mencari jalan keluar sendiri untuk melepaskan diri dari penderitaan dan mencapai nirwana. Green merasa hal ini tidaklah sesuai dengan hatinya. Memang, ia menemukan banyak ajaran-ajaran baik dalam Buddha.

Tapi kalau hidup yang penuh penderitaan? Green harus berpikir ulang. Ajaran Buddha tidak lagi membuat perasaannya tenang dan Green tidak menemukan jawaban dari pertanyaan fundamentalnya: ‘’Mengapa manusia ada di bumi?’’

Tak puas dengan apa yang ia dapatkan di ajaran agama lain, Green sempat memutuskan untuk membuat agamanya sendiri. Ia mengombinasikan agama-agama dan filosofi yang ia pelajari selama ini menjadi satu dan membuatnya menjadi ‘agama Green’.

“Dan masa-masa itu menjadi pengalaman spiritual terburuk dalam hidup saya,” kenangnya.

Karena tidak menemukan kebenaran juga, Green mulai berpikir mungkin memang tidak ada agama yang benar di dunia ini. Mungkin semuanya memang seperti ini adanya dan ia harus menerima itu. Barangkali di dunia ini tidak ada jawaban yang dapat membuatnya paham mengenai apa yang harus manusia lakukan di dunia dan apa tujuan manusia dilahirkan.

Sempat ia hampir menerima kenyataan bahwa tujuan dalam hidup ini hanyalah mencari uang dan menumpuk kekayaan. Masalahnya, Green bukanlah kaya dan dia belum cukup kaya untuk mencapai ‘tujuan hidup’ yang ia maksud. Ia harus banyak belajar dari orang-orang yang bisa menghasilkan banyak uang.

Ia mengetahui orang Arab sangatlah kaya karena minyak yang dihasilkannya. “Mereka tinggal mengatakan Allahuakbar, lalu uang muncul di depan mereka. Semudah itu,” kata dia.

Terpikir pula olehnya agama yang dianut orang-orang Arab, yakni Islam. Agama ini belum pernah disentuh Green sebelumnya. Karena penasaran, akhirnya Green mempelajari terlebih dahulu agama yang berasal dari Timur Tengah ini, sebelum ia memutuskan untuk menjadi kaya.

Green membeli sebuah terjemahan Alquran di toko buku dan membacanya. Green membacanya berkali-kali dan menemukan ada yang tidak biasa dalam buku tersebut. Green merasa buku ini tidak ditulis oleh sembarang orang. Dari situ Green mulai mempelajari tentang Islam.

Perlahan-lahan ia mulai menyadari bahwa Islam adalah agama yang menjawab semua pertanyaannya. Islam memberinya pedoman dalam kehidupan dan memberikan cahaya pada setiap jalan yang ia tempuh.

Islam juga menjawab pertanyaan Green mengenai Tuhan. Tuhan adalah satu dan ia tidak memiliki ibu juga tidak mati. Tuhan adalah pencipta seluruh alam dan melalui para nabi Tuhan menyampaikan apa yang perlu manusia lakukan di dunia dan apa yang tidak boleh mereka lakukan.

“Saya menyadari buku ini berasal dari Tuhan. Dia telah memberikan jawaban atas pertanyaan saya selama ini.” Ia juga menemukan jawaban atas tujuan hidup di dunia ini, yakni untuk beribadah dan menyembang Sang Khalik, demi mendapat kehidupan yang abadi di Hari Akhir.

Kini, Green berkhidmat dalam Islam. Ia mempelajari Islam dan menyebarkannya. Dakwah adalah jalan hidupnya.
Read more...

Senin, 27 Mei 2013

Makna Iman

0 komentar


Definisi Iman

Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah:
تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ.
“Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.”

Ini adalah pendapat jumhur. Dan Imam Syafi’i meriwayatkan ijma para sahabat, tabi’in dan orang-orang sesudah mereka yang sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.



Penjelasan Definisi Iman

“Membenarkan dengan hati” maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .

“Mengikrarkan dengan lisan” maksudnya, mengucapkan dua kalimah syahadat, syahadat “Laa ilaha illallahu wa anna Muhammadan Rasulullah” (Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah)

“Mengamalkan dengan anggota badan” maksudnya, hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, sedang anggota badan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya.

Kaum salaf menjadikan amal termasuk dalam pengertian iman. Dengan demikian iman itu bisa bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal shalih.

Dalil-dalil Kaum Salaf

Para salaf bersandar kepada berbagai dalil, diantaranya adalah:
  • Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :
    “Dan tiada kami jadikan penjaga Neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (menyatakan), ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” (Al-Muddatstsir: 31).
  • Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (Al-Anfal: 2-4).
  • Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
    (( الإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ، أَوْبِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ ))
    “Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama adalah ucapan “la ilaha illallahu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim, 1/63).
  • Sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , riwayat Abu Sa’id Al-Khudry, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
    (( مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ ))
    “Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, 1/69).
Bagaimana Dalil-dalil Tersebut Menunjukkan bahwa Iman Dapat Bertambah dan Berkurang 

Dalil Pertama: 
Di dalamnya terdapat penetapan bertambahnya iman orang-orang mukmin, yaitu dengan persaksian mereka akan kebenaran nabinya berupa terbuktinya kabar beritanya sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab samawi sebelumnya. 


Dalil kedua: 

Di dalamnya terdapat penetapan bertambahnya iman dengan mendengarkan ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang disifati oleh Allah, yaitu mereka yang jika disebut nama Allah tergeraklah rasa takut mereka sehingga mengharuskan mereka menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Mereka itulah orang-orang yang bertawakkal kepada Allah. Mereka tidak mengharapkan selainNya, tidak menuju kecuali kepadaNya dan tidak mengadukan hajatnya kecuali kepada-Nya. Mereka itu orang-orang yang memiliki sifat selalu melaksanakan amal ibadah yang di syariatkan seperti shalat dan zakat. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman, dengan tercapainya hal-hal tersebut baik dalam i’tiqad maupun amal perbuatan. 


Dalil ketiga: 

Hadits ini menjelaskan bahwa iman itu terdiri dari cabang-cabang yang bermacam-macam, dan setiap cabang adalah bagian dari iman yang keutamaannya berbeda-beda, yang paling tinggi dan paling utama adalah ucapan “la ilaha illallah” kemudian cabang-cabang sesudahnya secara berurutan dalam nilai dan fadhilahnya sampai pada cabang yang terakhir yaitu menyingkirkan rintangan dan gangguan dari tengah jalan. Adapun cabang-cabang antara keduanya adalah shalat, zakat, puasa, haji dan amalan-amalan hati seperti malu, tawakkal, khasyyah (takut kepada Allah) dan sebagainya, yang kesemuanya itu dinamakan iman. 

Di antara cabang-cabang ini ada yang bisa membuat lenyapnya iman manakala ia ditinggalkan, menurut ijma’ ulama; seperti dua kalimat syahadat. Ada pula yang tidak sampai menghilangkan iman menurut ijma’ ulama manakala ia ditinggalkan; seperti menyingkirkan rintangan dan gangguan dari jalan. 

Sejalan dengan pengamalan cabang-cabang iman itu, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, maka iman bisa bertambah dan bisa berkurang. 

Dalil keempat: 

Hadits Muslim ini menuturkan tingkatan-tingkatan nahi munkar dan keberadaannya sebagai bagian dari iman. Ia menafikan (meniada- 
kan) iman dari seseorang yang tidak mau melakukan tingkatan terendah dari tingkatan nahi munkar yaitu mengubah kemungkaran dengan hati. Sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat hadits:
(( وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ اْلإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ ))
“Dan tidak ada sesudahnya sebiji sawi pun dari iman.” (HR. Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayanu Kurhin Nahyi Anil Mungkar).

Berdasarkan hal ini maka tingkatan di atasnya adalah lebih kuat keimanannya. Wallahu a’lam
Read more...

Senin, 20 Mei 2013

Berharap hanya kepala-Nya

0 komentar



لاَ تََتَعَدَّ نِيَّةَ هِمَّّتِكَ اِلَى غَيْرِهِ فََالْْكَرِيْْمُُ لاَ تَتَخَطَّاهُ الآمَالُ٠ 

“Jangan palingkan harapanmu selain dari Allah, karena Dzat yang Maha Hidup itu tidak mungkin mengenalnya oleh semua angan- angan " 


Semua kehendak yang diangan-angankan seorang hamba, tidak akan sampai, kecuali membulatkan niat dan harapan ditujukan hanya kepada Allah, meskipun Allah swt tidak bergantung kepada khayalan dan angan-angan manusia untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab Allah adalah Dzat Maha Sempurna, tidak bergantung kepada siapa pun. Hambalah yang wajib menggantungkan dirinya kepada Rabbul Alamin. Allah swt Maha Memberi, tidak memerlukan pemberian hamba. Allah swt Maha Kaya, tidak memerlukan kepada kekayaan hamba-hamba-Nya. 


Allah swt tidak memerlukan khayalan dan angan-angan para hamba untuk mendekati-Nya, sebab Allah swt jua yang akan menentukan hamba-Nya datang menemui-Nya dengan petunjuk-petunjuk yang telah disampaikan kepada para Rasul. Allah swt tidak berhajat kepada manusia, karena Allah meliputi segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, di darat dan di laut. Manusialah yang berhajat kepada Allah, maka hajat itu di sampaikan permohonannya hanya kepada Allah. Kebutuhan manusia akan pertolongan Allah, tidak begitu saja diterima oleh hamba, tanpa pengharapan itu diwujudkan dengan amal ikhtiar yang sungguh sungguh.


Orang-orang yang arif bijaksana berharap kepada Allah dengan khauf dan raja'. Khauf artinya selalu dalam kekuatiran akan amil ibadahnya, kalau-kalau Allah tidak menerima amal ibadahnya, dan raja' artinya selalu dengan penuh harapan memohon kepada Allah swt agar amal ibadahnya diterima Allah. 


Seorang hamba yang mukmin tidak akan berhenti menyampaikan harapan kepada Allah swt. Ia tidak bosan-bosan meminta kepada Al Khalikul alam, walaupun berkali-kali, karena Allah adalah satu satunya tambatan hati dan tempat mengadu. Ia menangis kepada Allah, walaupun sesekali ada perasaan terlintas di dalam sanubarinya, kalau semua yang ia pinta Allah tidak mendengarnya, kalau harapan yang ia panjatkan, Allah tidak mau melayani. Ia kuatir kalau doa dan pintanyu. tidak dibukakan pintu rahmat oleh Allah. Sementara harapannya tetap teguh, tetap membara, terus ia meminta, minta hanya kepada Allah Rabbul Izzah. Itulah sifat orang saleh yang arif dan terus menemu bermakrifat kepada Allah. 


Bermohon hanya kepada-Nya adalah sikap iman orang saleh Mengapa harus kepada orang lain, padahal yang selain Allah tidak ia temukan bukti-bukti yang menandakan bahwa apa yang ia minta akan diperoleh dari siapa...? Padahal bermohon kepada Allah swt, pintu rahmat Allah selalu terbuka dan tidak pernah ditutup. Mengapa orang orang yang menyebut dirinya peminta-minta karena hidup susah dan sulit perjalanan yang ditempuh, meminta dan berharap, kepada selain Nya, padahal Allah ada di mana-mana, menampakkan kekuasaannya di hadapan mata manusia yang susah itu. mengapa meminta kepada selain Allah, padahal banyak orang yang meminta kepada Allah, tidak pernali Allah mengecewakan mereka. Padahal Allah berjanji, bahwasanya setiap doa tidak pernah Allah menolaknya. 


Kalau pintu rahmat dan anugerah Allah kepada manusia tetap terbuka, tidaklah sepatutnya manusia meminta dan berharap kepada yang bukan Allah. 


Sesungguhnya Allah itu hanya satu dan Maha Perkasa. (Al Wahidul Qahhar). Maha Mulia dan Maha Hebat (Al Azizul Jabbar).
Read more...

Rabu, 15 Mei 2013

Keutamaan Ilmu Agama Islam

0 komentar

Menuntut atau Mempelejari Ilmu Agama merupakan bagian dari ibadah, dimana setiap muslim diperintahkan untuk mempelajarinya, masing-masing sesuai kemampuan yang Allah berikan padanya.
Sebelum kita melanjutkan pembahasan tentang Keutamaan Menuntut/Mempelajari Ilmu Agama ini, ada baiknya kita melihat dulu postingan kami yang dulu yaituKeutamaan Mempelajari Fiqih dan Ilmu Agama dan Menyebarkan Ilmu Agama dan Keutamaannya, karena kedua artikel tersebut sangat erat kaitan nya dengan apa yg akan kita bahas sekarang ini.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (artinya) :
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (Hadits sahih, diriwayatkan dari beberapa sahabat diantaranya : Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhum.
Lihat : Sahih al-jami : 3913)


Disamping hukum wajibnya menuntut ilmu syar’i, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya banyak sekali menyebutkan tentang keutamaan menuntut ilmu, yang seharusnya sebagai seorang muslim, menjadikan dalil-dalil tersebut sebagai penyemangat lalu berusaha mengisi waktu-waktunya dengan mempelajari kitabullah dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sebab hal itu akan menjadi pedoman hidup seorang hamba yang mengharapkan hidayah dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu dia berkata :

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (artinya) :
"Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” [1]

Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya kedudukan ilmu agama dan keutamaan yang besar bagi orang yang mempelajarinya, sehingga Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhush Shalihin [2], pada pembahasan “Keutamaan Ilmu”mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama.
Imam An-Nawawi berkata : “Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama) dan keutamaan mempelajarinya, serta anjuran untuk menuntut ilmu.” [3]

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani berkata : “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya.” [4].

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini adalah :
1. Ilmu yang disebutkan keutamaannya dan dipuji oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah ilmu agama. [5]

2. Salah satu ciri utama orang yang akan mendapatkan taufik dan kebaikan dari Allah Ta’ala adalah dengan orang tersebut berusaha mempelajari dan memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam. [6]

3. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama akan terhalangi untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala. [7]

4. Yang dimaksud dengan pemahaman agama dalam hadits ini adalah ilmu/pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang mewariskan amalan shaleh, karena ilmu yang tidak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah merupakan ciri kebaikan. [8]

5. Memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar merupakan penuntun bagi manusia untuk mencapai derajat takwa kepada Allah Ta’ala. [9]

6. Pemahaman yang benar tentang agama Islam hanyalah bersumber dari Allah semata, oleh karena itu hendaknya seorang muslim disamping giat menuntut ilmu, selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dianugerahkan pemahaman yang benar dalam agama. [10]


Berikut ini kami menyebutkan beberapa Keutamaan ilmu yang disebutkan didalam Al-qur’an dan As-Sunnah :

1. Ilmu adalah cahaya.
Allah Ta’ala berfirman (artinya) :
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah : 5-6)

Kedua ayat ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu, yang disifatkan sebagai cahaya yang membimbing siapa saja yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan, berupa jalan yang menyelamatkan seorang hamba dari penyimpangan dan kesesatan, dan mengantarkan seorang hamba menuju keselamatan dunia dan akhirat, mengeluarkan mereka dari kegelapan, kegelapan syirik, bid’ah, kemaksiatan dan kejahilan, menuju kepada cahaya tauhid, ilmu, hidayah, ketaatan dan seluruh kebaikan.
Oleh karenanya, jika seseorang lebih condong mengikuti hawa nafsunya, gemar melakukan kemaksiatan, yang menyebabkan hatinya menjadi gelap, maka ilmu akan sulit menempati hati yang gelap tersebut, sulit menghafal ayat-ayat Allah dan men-tadabburi-nya, sulit menghafal hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupannya, sebab tidak akan mungkin berkumpul dalam satu hati antara kegelapan maksiat dengan cahaya ilmu.

2. Ilmu merupakan tanda kebaikan seorang hamba
Ketika seorang hamba diberi kemudahan untuk memahami dan mempelajari ilmu syar’i, itu menunjukkan bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi hamba tersebut, dan membimbingnya menuju kepada hal-hal yang diridhai-Nya. Kehidupannya menjadi berarti, masa depannya cemerlang, dan kenikmatan yang tak pernah dirasakan di dunia pun akan diraihnya.

Seperti yang tercantum dalam sabda Rasulullah dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu diatas bahwa “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka Ia akan difahamkan tentang agamanya.”
Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (artinya) :
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, Lalu Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka siapa yang mendapatkan cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah, dan siapa yang tidak mendapatkannya maka dia tersesat.” [11]

Saudaraku Muslim...!
Jadilah orang-orang terbaik yang dimuliakan Allah Azza Wajalla, dengan berusaha mempelajari agama Allah dan mengajarkannya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (artinya) :
"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-qur’an dan mengajarkannya." [12]

3. Ilmu agama menyelamatkan dari laknat Allah Azza Wa jalla
Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (artinya) :
“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali zikir kepada Allah dan amalan-amalan ketaatan, demikian pula seorang yang alim atau yang belajar.” (HR. Tirmidzi (2322), Ibnu Majah (4112), dihasankan Al-Albani dalam sahih al-jami’, no :1609)

Berkata Al-Munawi dalam menjelaskan hadits ini : “Dunia terlaknat, disebabkan karena ia memperdaya jiwa-jiwa manusia dengan keindahan dan kenikmatannya, yang memalingkannya dari beribadah kepada Allah lalu mengikuti hawa nafsunya.”[13]

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah : “Setiap amalan yang dilakukan seorang hamba yang tidak berbentuk ketaatan, ibadah dan amalan saleh maka amalan tersebut merupakan amalan yang batil, sebab dunia ini terlaknat dan terlaknat segala isinya kecuali sesuatu yang dilakukan karena Allah, meskipun amalan batil itu menyebabkan seorang meraih kepemimpinan dan harta, maka seorang pemimpin bisa menjadi Firaun, dan seorang yang gila harta bisa menjadi Qarun.” [14]
Maka dengan menuntut ilmu dan mengajarkannya, akan menjadikan seorang hamba yang masuk kedalam kelompok yang akan meraih ridha-Nya, dan selamat dari kemurkaan dan siksa-Nya.

4. Menuntut Ilmu, jalan menuju surga.
Disebutkan dalam sahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (artinya) :
“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim : 2699)

Hadits ini menerangkan bahwa seorang yang keluar untuk menuntut ilmu, akan menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga.
Mengapa demikian ? Ya, tatkala seorang muslim mempelajari agamanya dengan penuh keikhlasan, maka dia akan dimudahkan untuk memahami mana yang baik dan mana yang buruk, antara yang halal dan yang haram, yang haq dan yang batil, lalu dia berusaha mengamalkan apa yang telah ia ketahui dari ilmu tersebut, sehingga ia menggabungkan antara ilmu dan amal dengan keikhlasan dan mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka dia menjadi seorang hamba yang diridhai-Nya, dan tiada balasan dari Allah Ta’ala bagi hamba yang diridhai-Nya melainkan surga.

Banyak kaum muslimin yang beranggapan bahwa menuntut ilmu agama itu hanya tugas para santri yang duduk di pondok-pondok pesantren. Tentu ini merupakan persepsi yang salah, sebab setiap muslim telah diwajibkan untuk mempelajarinya, sebagaimana yang telah kita sebutkan dari hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.
Hadits ini menjelaskan bahwa balasan yang Allah berikan kepada hambanya setimpal dengan usaha yang telah dia lakukan, sebagaimana dia menempuh jalan untuk mencari kehidupan hatinya dan keselamatan dirinya dari kebinasaan, maka Allah menjadikannya menempuh jalan yang ingin diraihnya tersebut. [15]

5. Ilmu lebih utama dari ibadah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (artinya) :
“Keutamaan ilmu lebih aku sukai dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah bersikap wara’ [16].” (HR. Al-Hakim, Al-Bazzar, At-Thayalisi, dari Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu Anhu. Disahihkan Al-Albani dalam sahih Al-jami’ : 4214)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (artinya) :
“Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan dimalam purnama dibanding seluruh bintang-bintang.” (HR. Abu Dawud (3641), Ibnu Majah (223), dari hadits Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu)

Yang dimaksud hadits ini bahwa memiliki ilmu dengan cara menuntutnya, atau mengajarkannya, merupakan amalan ibadah yang lebih utama dibanding amalan ibadah lainnya, seperti shalat sunnah, berpuasa sunnah, dan yang lainnya. Bukan yang dimaksud hadits ini bahwa ilmu bukan bagian dari ibadah, namun maksudnya bahwa ilmu merupakan bagian ibadah yang paling mulia, bahkan bagian dari jihad fi sabilillah.

Berkata Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah : “Aku tidak mengetahui ada satu ibadah yang lebih utama dari engkau mengajarkan ilmu kepada manusia.” (Jami’ bayanil ilmi, Ibnu Abdil Bar : 227)
Beliau juga berkata : “Tiada satu amalan yang lebih utama dari menuntut ilmu jika niatnya benar.” (Jami’u bayanil ilmi : 119)
Berkata Abu Darda’ : “Barangsiapa yang menyangka bahwa berangkat menuntut ilmu bukan amalan jihad, maka sungguh ia telah kurang pandangan dan akalnya.”(Miftahu daris sa’adah : 1/122)


Masih banyak lagi keutamaan ilmu yang dijelaskan di dalam Al-qur’an dan Sunnah, namun semoga yang sedikit ini menjadi pemicu semangat kita untuk berusaha menggali warisan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang penuh berkah ini.
Semoga Bermanfa'at...!!
_____________________________________________________________________________
Catatan Kaki :
[1] HR. Al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037).
[2] 2/463- Bahjatun Naazhiriin.
[3] Syarah Shahih Muslim (7/128).
[4] Fathul Baari (1/165).
[5] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaiman dalam kitab al-Ilmu (hal. 9).
[6] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[7] Lihat kitab Fathul Baari (1/165) dan Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[8] Lihat kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60).
[9] Lihat kitab Syarah Shahih Muslim (7/128) dan Faidhul Qadiir (3/510).
[10] Lihat Bahjatun Naazhiriin (2/463).
11 (HR. Ahmad (2/176), Tirmidzi,no : 2642, Ibnu Hibban (6169), Al-Hakim dalam mustadrak (1/84), dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash. Disahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3/1076)
[12] HR. Bukhari (4739), dari Utsman Bin Affan Radhiyallahu Anhu.
[13] Tuhfatul ahwadzi : (6/504).
[14] Majmu’ fatawa : (8/76).
[15] Lihat Miftahu Daris sa’adah, Ibnul Qayyim : 71.
[16] Wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan memudaratkan kehidupan akhiratnya.
Read more...